about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Friday, April 29, 2005

Horror Dari Kisah Nyata

ga sekolah lo mel
harusnya sih
pagi pula
tp malas?
tapi males banget yak
ujan gitu
elo gak tau sih jef kl ujan di sini cacing2 pada keluar
kesian deh lo
ujan di sini gak cukup bawa payung aja
tp
harus bawa buldoser utk menghindari tebaran cacing
hiiiiiiiiiiiiiii
hrs bawa keberanian utk melawan cacing?
yup, keberanian juga udah cukup kali ya
cacing lo takut
hahahahahaha





Kelemahan gue adalah cacing.

Well, sebenernya banyak sih kelemahan gue. Misalnya coklat dan es krim. Pokoknya orang2 gampang deh ngeracunin gue. Cukup kasih gue coklat atau es krim, bakal langsung gue lahap tanpa bertanya2.

Tapi lebih dari semuanya, gue gak tahan ngeliat cacing.

Well, sebenernya sih ke semua binatang juga gue takut. Bukan jijik atau benci dan pengen bunuh, tapi geli dan pengen menjauh aja... Kalaupun ada binatang2 yang bisa gue hadapi dengan tenang, itu cuma ikan (selama mereka tetap di dalam air) atau burung (selama mereka tetap terbang jauh di atas gue) atau dinosaurus (karena mereka sudah punah dan tinggal fosil dan terpisah puluhan ribu tahun jauhnya dari gue). Binatang2 rumah pun gue gak suka. Dan mereka juga keliatannya gak suka sama gue :((

Makanya gue gak habis pikir sama orang2 yang punya peliharaan macem2 sampai rumahnya kayak kebun binatang.


Contohnya sahabat gue Manda.
Di Jogja, rumahnya merangkap kebun binatang. Dia punya segala macem, mulai dari ikan, burung, ayam, kucing, sampai ke harimau. Pada saat2 high season, kucing di rumahnya bisa mencapai jumlah 25 ekor! Berarti kalau gue ke sana, gue bisa pingsan pangkat 25. M adalah salah satu psikolog kucing yang gue kenal. Dia tau mana kucing yang gay, mana kucing yang cantik dan layak jadi model di dunianya, mana kucing yang naksir yang mana dan mana yang gak cocok sama yang mana. Dia itu psikolog kucing. Dia menamakan kucing2nya seperti nama2 orang. Salah satu kucingnya dia kasih nama Puspita Setyaningrum. Panggilannya Pus. (Eh, ini kucingnya Manda atau kucing temen gue yang lain ya?)

Masih tentang kucing.
Adik gue Razif adalah satu2nya di keluarga yang cinta kucing. Walaupun nyokap gue gak pernah mengizinkan ada kucing di dalam rumah (inilah salah satu alasan gue gak mau menukar nyokap gue sama nyokap2 lain). R bisa lihat kucing mana yang lagi ketawa (plis deh, secara fisiologis atau anatomi mulut kucing, mustahil ada kucing yg bisa ketawa kan?) Dulu waktu kita tinggal di Aljazair, kita sempat punya 7 kucing. Gue yang ngasih nama. Gue emang hobby ngasih nama. Gue ngasih nama aneh2 lah ke kucing2 itu, sesuai selera gue, contohnya Mustek, Hradcanska, Sparta, dll (nama2 stasiun subway di Praha, kekekeke). Tapi terus guru piano kita ngasih nama baru buat mereka, nama2 yang lebih bagus menurut gue, jadi gue rela kalau mereka ganti nama. Berhubung mereka ada 7, guru piano gue ngasih nama buat mereka: do, re, mi, fa, sol, la, si. Dari situlah asal muasal alamat imel gue di yahoo, kalau kalian mau tau. Itu nama2 kucing.

Hmmm... kucing memang salah satu binatang peliharaan favorit.
Di keluarga besar nyokap gue, semuanya tergila2 sama kucing. Mulai dari nenek gue sampai sepupu gue yang paling kecil. Nenek gue dulu pernah punya kucing jantan berbulu putih yang sangat bagus bagi para ahli kucing (bagi gue sih warna bulunya hanya putih), saking gantengnya dia dikasih nama Josh Luis (ada hubungannya sama telenovela2 Latin).


Nenek gue, bingung: Josh Luis mana? Ayo ajakin sarapan sekalian...

Gue, panik: Haa? Josh Luis siapa? Gila aja, gue baru bangun nih belum mandi, mana sisir? mana sisir? Tunggu gue bedakan dulu...


Ternyata mereka ngomongin kucing.


Josh Luis seperti inilah yang gue harapkan:

Image hosted by Photobucket.com


Namun Josh Luis semacam inilah
yang ternyata sedang mereka khawatirkan:


Image hosted by Photobucket.com



Mereka semua gila kucing, terutama keluarga Tante gue, Tante Mila. Rumahnya sudah sejak lama diambil alih oleh kucing2. Dan kucing2 yang mau melahirkan pasti datangnya ke tempat Tante gue ini, sampai2 kita juluki dia bidan kucing. Waktu salah satu sepupu gue gak sengaja menyebabkan salah satu kucing mereka mati (itu adalah murni kecelakaan), sepupu2 gue yang lain marah dan menuduh dia pembunuh. Anak2 kecil itu langsung mengadakan upacara pemakaman lengkap dengan acara tangis2an sebagai salam perpisahan mengenang kucing yang sudah dipanggil ke sisi-Nya mendahului kita semua...






Kok gue jadi ngomongin kucing ya… kan seharusnya gue ngomongin cacing, walaupun sama2 berakhiran ‘cing’.

Dengan pengakuan gue bahwa gue takut cacing, sama sekali tidak berarti bahwa gue berani sama ular dan lintah dan semacamnya. Temen gue Dewi, kakaknya pelihara ular di rumah. Udah gitu ularnya tuh gaul gitu, suka keluyuran. Kebayang gak sih kalau di kamar loe tiba2 ada ular lagi jalan2? Tapi kayaknya Dewi udah mati rasa deh. Dia suka cerita2 ttg ular itu yang mabok darat lah kalo dibawa jalan2 naik mobil, yang ini lah yang itu lah… aduh…

Dan ngomong tentang lintah, gue pernah punya pengalaman traumatis beberapa tahun yang lalu. Jadi ceritanya gue sama anak2 KSM sekitar 4 tahun yang lalu pernah ke curug panjang gitu deh di sekitar Bogor. Setelah semaleman api unggun, pagi2nya kita mau liat air terjun. Nah gue telat bangun, hehe, jadilah gue nyusul belakangan ke atas bareng sama Ardi, Jimmy, satu lagi siapa yak? Lupa gue… Koko? Andry? Hengky? Yah pokoknya kita berempat gitu deh…

Dan kita nyasar. Setelah satu jam di tengah hutan, yang lembab, yang sepi, yang gue curiga gak pernah dilewati manusia, mulailah serangan pacet dimulai. Bagi yang gak tau pacet itu apa, biar gue kenalin dulu ya… Pacet itu binatang penghisap darah yang bentuknya seperti ulat dan sangat lincah, lompat2 gitu deh. Dalam sedetik dia bisa tiba2 ada di lengan loe… kalau pacet lagi asik ngisap darah loe, sebaiknya jangan begitu aja ditarik karena taringnya bisa ketinggalan di badan loe dan menyebabkan pendarahan… Jadi kalau loe dihisap pacet, liatin aja ya, sampai mereka gemuk kekenyangan darah loe… huhuwwhuww… ini sih teorinya, prakteknya sih, begitu gue liat pacet di kaki gue misalnya, rasanya pengen langsung gue lempar kaki gue jauh2…

Sekarang pun, setelah 4 tahun berlalu, gue gak pernah bisa pulih 100%. Kita nyasar selama 4 jam di hutan. Tanpa tau arah dan tujuan, tanpa tau apakah bisa keluar dari sana hidup2, cowok2 itu dari waktu ke waktu saling memeriksa badan satu sama lain siapa tau ada pacet di punggung mereka. Sementara gue? Cuma bisa teriak2 histeris aja gitu.. Pacet2 itu gak cuma menghisap darah gue, mereka juga menghisap kewarasan gue… Gue rasa gue jadi agak2 gila permanen gara2 kejadian itu.





Tapi seberapa sering sih gue ketemu ular dan pacet dalam hidup gue sehari2? Sementara cacing?
Dulu waktu gue kuliah di tengah hutan di Depok, ada satu jalan setapak, jalan pintas dari kampus gue ke stasiun lewat hutan. Romantis sekali lah… rindang… damai… tapi kalau abis ujan… huuuu berubah jadi setting adegan horror. Cewek2 pada loncat2 menghindari cacing2 yang pada naik ke jalanan. Segala macem bentuk cacing ada di jalan itu. Segala ukuran, segala usia. Ada yang masih utuh menggeliat2, ada yang udah gepeng keinjek, ada yang setengah-setengah. Makanya gue lebih baik muter dan jalan 3 kali lebih jauh daripada lewat sana. Makanya gue luar biasa lega setelah lulus dari kampus itu…

… tapi rupanya gue terlalu cepat lega, karena ternyata di Fulda gue ketemu ketemu lagi sama cacing2 kalau jalan ke kampus abis ujan. Dan kali ini tanpa alternatif jalanan, dan kali ini gue mesti ngelewatin itu semua sepanjang 30 menit. Manusia toh pada akhirnya memang harus menghadapi ketakutan2 mereka, gak bisa menghindar terus2an…

Bagi teman2 yang kira2 seangkatan sama gue, mungkin kalian masih inget ya dulu pas SMP kelas 2 di pelajaran Biologi ada satu bab tentang cacing. Gue disuruh ngapalin nama2 cacing lengkap dengan nama2 Latin mereka, plus familinya dan ciri2nya. Emang kurikulum Indonesia tuh gak penting banget, tapi mari kita fokuskan bahasan kita ke cacing. Emang kurikulum Indonesia tuh gak ada penting2nya, tapi yang lebih menyiksa gue adalah, mereka juga masukin gambar2 cacing di buku pelajaran kita.

Sayangnya dulu gue masih sangat muda dan polos… kalau sekarang kejadian seperti itu, gue bakal menolak penyiksaan itu. Waktu itu sih gue terima2 aja, walaupun gue harus tutup gambar2 cacing itu pakai kertas, diselotip, itu pun yang ngerjain temen2 cowok sekelas gue. Supaya seenggaknya gue bisa langsung pegang buku itu tanpa pingsan2 terlebih dahulu.





Cacing adalah mimpi buruk gue.
Wajar kan kalau di posting kali ini gue gak kasih gambar sama sekali? Se-artistik2nya gambar cacing, hanya gambar cacing yang sudah ditutup kertas yang bisa gue liat dengan tenang. Seperti ini misalnya:

Image hosted by Photobucket.com

Di atas adalah gambar cacing, indah kan?






Terapi behavioral dalam Psikologi sangat mungkin efektif digunakan untuk membuat gue berani menghadapi cacing.

Dalam menghadapi kasus phobia, ada serangkaian terapi dari berbagai aliran Psikologi yang bisa dipakai. Waktu gue masih kuliah Psikologi dulu, di kelas Psikoterapi, dosen kita Alm. Prof. Sukiat (dari aliran behaviorisme), suka cerita tentang mahasiswa2 co-ass nya. Bagi mahasiswa S1, tujuan kuliah ini hanyalah untuk tau teknik2 terapi, tapi buat mahasiswa yang mau jadi psikolog, tau saja tidak cukup. Mereka harus bisa mempraktekkannya (logis kan?) Dan sebelum mempraktekkannya, mereka juga harus pernah punya pengalaman sebagai orang yang diterapi (logis kan?)

Di salah satu kelas Psikologi Klinis buat co-ass, Prof Sukiat bawa ulat ke kelas, yang dia deskripsikan sebagai “ulat kecil warna-warni yang lucu dan imut2”. Bayangin aja reaksi cewek2 calon2 psikolog yang cantik2 dan tangannya halus2 itu ketika lihat ulat. Ada yang teriak2 histeris dan sama sekali gak mau mendekat. Dan singkat cerita, setelah dipraktekkan terapi2 mengatasi phobia, cewek2 itu malah memohon2 supaya boleh bawa pulang ulat2 itu!!!

Ya iyalah! Kalau gue di posisi mereka pun gue bakal melakukan hal yang sama. Mana yang gue pilih:
1. tiba2 berubah berani menghadapi ulat, atau
2. gak lulus jadi psikolog?
Huahuahuaha…. Tapi sebenernya gue punya alternatif lain sih… Ini melibatkan perencanaan yang sangat matang sejak awal. Sejak kita diwawancara sebelum jadi co-ass:


Jadi kamu ingin jadi psikolog?

Ya Bu, benar sekali.
Psikolog apa tepatnya?
Psikolog Klinis Bu.
Oh, begitu… Kamu tentu tau dalam mempelajari manusia, kita harus lebih dahulu mempelajari diri sendiri.
Saya sangat setuju Bu. *jangan lupa senyum!*
Nah, apakah kamu sudah mulai mempelajari diri sendiri? Apakah kamu tau, misalnya, benda atau binatang apa yang paling kamu takuti? *pertanyaan menjebak*
Ya Bu, saya paling gak tahan liat coklat dan es krim… *pasang tampang ngeri*
Coklat dan es krim? *mengangkat muka dari kertas2 di hadapannya*
Ya. Saya rasa itu ada hubungannya dengan ketakutan saya jadi gemuk… *nice answer Mel*
Kamu gak takut sama ulat?
Ulat? *tampang bingung* Apa yang harus ditakuti dari ulat Bu? Mereka gak menggigit, mereka gak menyebabkan kita kegemukan... *wow, makin kagum gue sama diri gue sendiri*


Jadi demikianlah… pada saat pelajaran terapi phobia tiba… saat temen2 sekelas gue dihadapkan sama ular dan tikus dan kecoak, gue akan dikasih coklat, bwahahahaha…. Selebihnya… mari kita serahkan pada kemampuan acting gue…..





Beribu maaf buat temen2 psikolog gue… kalian tau kan gue ini cuma sirik aja karena kalian sekarang udah jadi psikolog dan gue … gak jelas… huhuwhwuhwuuu…. Btw, wawancara buat penerimaan mahasiswa co-ass sama sekali gak ada mirip2nya sama yang gue ketik di atas. Jadi bagi kalian yg berniat kuliah co-ass, jangan anggap simulasi wawancara di atas sebagai kisi2 ya…

Creative Commons License

Tuesday, April 26, 2005

aku tak tau

Image hosted by Photobucket.com


jangan lagi kau tanyakan
mana cinta yang dulu
aku pernah punya untuk kamu.

dulu ketika kupersembahkan
menitku, nafasku, pelangiku
semua hanya untuk kamu.

selalu kamu isyaratkan tidak cukup.

ingatkah kamu redup di mataku
menyadari bahwa aku
tidak akan pernah cukup baik bagimu.


jangan lagi kau tanyakan
mana cinta yang dulu
aku pernah punya untuk kamu.

sebab aku pun tak tau ke mana perginya.

Creative Commons License

Monday, April 25, 2005

dion, riwayatmu kini

Image hosted by Photobucket.com

gelap ini dion, apa istilahnya?
gelincir ini dion, apa sebutannya?
hilang ini dion, apa bahasanya?
hampa ini dion, apa ungkapannya?

bukankah kamu pernah bilang, semua itu ada namanya.
beri nama rasaku ini.

rasaku melihat kamu
bergandengan mesra dengan pria lain.




ini pengantar tulisan gue berikutnya ttg gayness

Creative Commons License

Sunday, April 24, 2005

Films Review: Hide and Seek & Saw


Dua film berikut yang bakal gue bahas adalah film2... mmm... gue gak tau apa jenisnya. Hide and Seek sangat mungkin bisa digolongkan ke horror. Kalau Saw kayaknya gak bisa deh. Mungkin Saw itu lebih ke thriller, atau suspense, atau was auch immer.

Yah maklumlah, kalian sedang membaca blog nya seseorang, yang baginya nonton film adalah rekreasi abis2an. Jadi bagi gue yang penting tuh kalau bikin film yang gampang2 dimengerti aja deh. yang menghibur, yang ceritanya tuh jelas, pesannya apa, hikmahnya apa gitu... percuma deh gue diajak nonton film2 yang menang Award di mana2 kalau keluar bioskop gue cuma bete aja bawaannya gara2 di dalam gue disuruh mikir (males banget), belum lagi pemborosan dlm bentuk waktu dan uang. belum lagi kl temen nonton gue terkagum2 sama sinematografi dan pencahayaan dan acting aktor2 kawakannya yang menang piala Oscar atau piala Australia terbuka atau Thomas Cup atau blablabla kwek kwek kwek! Itu seakan2 seperti ada orang yang ngomong ke gue bgmn cara install ulang komputer, atau gimana cara ganti bohlam. Ya mana gue mau tau lah, hal2 gak penting begitu? (bagi yang tersinggung: sudah selayaknya kalian tersinggung karena memang tujuan gue adalah menyinggung kalian!!!)

Oke, cukup sampai di sini curhat gak jelas gue, sekarang kenapa gue bahas 2 film ini bersamaan? Karena selain film2 ini gue tonton dalam waktu yang hampir bersamaan, film2 ini juga ada benang merahnya. Kalau kalian suka sama film model Identity misalnya, maka kemungkinan besar kalian suka film ini. Ini film2 tentang ... ehem, orang2 sakit jiwa. hehehe...



Image hosted by Photobucket.com

Film horror favorit gue sepanjang masa adalah The Others (Nicole Kidman). Yang gue tonton sore2 di rumah sama ade gue R. Kita berdua hobby film horror sebenernya, tapi jarang menemukan film horror yang bener2 bagus. Waktu gue pulang dari kampus bawa VCD The Others, kita awalnya nonton tanpa bener2 berharap sih... tapi berakhir dengan merinding abis. Ini bukan horror2 yang mengekspos hantu2 di mana2... lebih halus lah mainnya. Dan seperti umumnya orang2 yang suka film The Others, gue juga suka film Sixth Sense. Dua film ini akan jadi horror klasik dalam kamus gue.

Horror yang paling mengesankan yang terakhir gue tonton adalah Gothika (Halle Berry), di Berlin nontonnya. soalnya gue gak berani nonton horror sendirian hehe... Setelah nonton film ini, gue ketakutan sampai2 selama 3 hari gue tidur dengan lampu kamar nyala. hari ke-3, setelah gue mulai lupa dan gue udah bisa mandi tanpa ngeliat2 di belakang gue ada apa, datanglah sahabat gue Vera ke tempat gue. Kita ngobrol dari A sampai Z dan ternyata dia juga udah nonton Gothika, malah 3 kali nontonnya gara2 dia suka banget film itu. Terus kita bahas deh film itu dan ternyata interpretasi dia ttg film itu lebih serem daripada interpretasi gue dan jadilah gue selama 3 hari sesudahnya kembali tidur dengan lampu nyala :-(

Film horror yang disebut2 sebagai horror terserem sepanjang masa adalah Exorcist. Film ini film tahun 70-an kali ya... pokoknya kuno deh dandanan pemain2nya, tapi lumayan juga untuk nakut2in gue. Ceritanya ttg anak kecil yang kesurupan terus dipanggil pengusir setan gitu deh.

Nah, film Hide and Seek ini sejujurnya gak terlalu meninggalkan bekas sih.. Tapi sebagai hiburan bagus juga kalian tonton. Film ini tentang seorang anak perempuan yang jadi punya temen khayalan sejak ibunya meninggal. Dia jadi suka ngomong sendiri, main2 petak umpet sama temannya itu, sering terjadi hal2 menyeramkan dan gak biasa di rumahnya yang dia bilang dilakukan sama temen khayalannya itu.

Gue nonton film ini sama nyokap gue di DVD, di rumah. Mungkin ini ada pengaruhnya. Bukankah film2 itu lebih kuat efeknya kalau kita tonton di bioskop? Yang jelas salah satu kekuatan film ini adalah Dakota Fanning, pemeran anak perempuan di film itu. Elo ngeliat dia aja udah merinding... Dan setting nya. Yang khas film horror: rumah2 tua yang sangat besar dan gelap, ditengah2 hutan, hehe...




Image hosted by Photobucket.com

Gue nonton film ini sehari sebelum gue balik ke Jerman, gara2 sahabat gue Koko lagi stress gak jelas dan tumben2an gitu loh mau nonton. Dia sekarang lagi merintis usaha sendiri dan selalu membicarakan pabriknya dengan kebanggaan ibu2 muda baru melahirkan ngomongin bayinya, yang paling dia sayang di seluruh dunia... hhhh.... Kalau kalian berani2nya ngajak dia nonton, seperti yang pernah dengan lancang gue lakukan, dia bakal bilang: "hmm.. nonton seratus ribu, makan seratus ribu lagi, uang segitu tuh bisa dibeliin berapa kaleng cat Mel? Uang segitu tuh udah bisa diputer lagi..."

Mau marah gak sih loe?

Tapi keajaiban memang ada. Dunia ini ternyata masih penuh dengan harapan, ketika tiba2 dia ngajak nonton.

Saw adalah film "murah" dari segi pembiayaan dan shooting nya cuma 18 hari. Bagi Koko, film ini dan buku Veronika Decides to Die (yang bakal segera gue tulis resensinya) mengingatkan kita untuk bersyukur dengan apa yang kita punya di hidup ini. Bagi gue, ini adalah film gila yang reaksi2 tokoh2 di dalamnya tuh banyak gak masuk akalnya dan sebaiknya hanya boleh ditonton oleh anak usia 21 thn ke atas saking sadisnya.

Tapi walaupun sadis, berhubung gue nonton sama orang gila itu, yang ada pas kita keluar bioskop, yang kita bahas justru sisi lucu dari film itu. Dan kita sampai ngakak2 sampai bungkuk2 gak karu2an di bioskop, seakan2 kita baru keluar nonton Asterix dan bukannya Saw.

Gue gak bakal cerita lucunya di mana karena bakalan gak seru banget bagi yg belum nonton, jadi mendingan kalian nonton dulu film ini, setelah itu baru kita bahas, hehehe... di sini sekarang gue cuma mau kasih kisi2nya supaya kalian penasaran.

Film ini ceritanya ttg permainan2 hidup atau mati yang dibikin oleh seorang psikopat. Jadi hobby psikopat itu adalah nyulik orang2 terus dimasukkan ke games yang udah dia rancang, di mana di games itu ada petunjuk2 yang harus elo ikutin kalau elo mau keluar dari games itu hidup2. Semua korbannya selalu gagal dan mati dengan cara mengenaskan. Psikopat itu tidak membunuh dengan tangannya sendiri tapi membuat korban2nya melakukan hal2 bunuh diri. Kecuali satu perempuan yang berhasil lolos. Dia bisa lolos dengan cara... mmm... sebaiknya kalian tonton sendiri deh.

Yang gue suka dari film ini antara lain, cara pengambilan gambarnya yang bener2 bikin jantung copot. Misalnya, ada satu adegan di mana psikopat itu mau nyulik seorang fotografer. Fotografer ini bangun tengah malam di rumahnya yang gelap gulita dan semua lampu mati. Dia denger suara2 mencurigakan di dalam rumahnya tapi dia gak bisa lihat apa2. Jadi dia ambil blitz nya dan dari waktu ke waktu selama sedetik kamarnya itu terang oleh lampu blitz. dan itu makin bikin tegang suasana. bayangin aja sendiri.

Katanya sih, ada rencana untuk bikin sekuel film ini. Di film pertama dengan budget yang terbatas aja para produser nya udah segila itu apalagi dengan biaya yang besar yak? Kita tunggulah. Walaupun di mana2 film sekuel tuh lebih ancur dari awalnya, tapi gue... pengen tau aja...

Creative Commons License

Wednesday, April 20, 2005

Catatan Pecandu Kopi

Coba tebak, secara rata2, siapakah peminum kopi terbanyak di Eropa?

Image hosted by Photobucket.com

Jerman?

Tadinya juga gue pikir begitu sampai suatu hari beberapa minggu yang lalu gue liat data statistik di Marktkorb Sonntag Fulda. Finlandia ada di peringkat atas dengan konsumsi kopi hampir 12 kilo per orang per tahun. Diikuti dengan negara2 Skandinavia lain: Swedia, Denmark, Norwegia, dan ada satu negara lagi kalau gak salah Austria (atau Swiss), setelah itu baru Jerman dengan rata2 hampir separuhnya Finland! Sementara gue pikir dulu gara2 ngeliat orang2 Jerman minum kopi seperti minum air putih, dan gue duga aliran kopi di tubuh mereka jadi agak2 terganggu sama darah, gue pikir semua hasil kopi di seluruh dunia larinya ke Jerman. Sebagai perbandingan, gue yang bagi orang2 sekitar gue udah agak2 nyandu kopi, gue perkirakan gue minum paling banyak 1,75 kilo kopi per tahun!!

Image hosted by Photobucket.com



Tidak cuma di Eropa, namun juga di seluruh dunia. Tidak cuma saat ini, namun sudah sejak lama dalam sejarah. Kopi digemari, kopi dicari, kopi dicandu... Ada apa dengan kopi?

Kalau di Inggris ada upacara minum teh, maka di Italy seharusnya ada semacam "upacara bikin kopi". Yup, karena bikinnya aja bagi gue udah njelimet. Menggunakan mesin2 yang berat2 dan canggih2 yang harganya aja .... well, gue gak tau berapa harganya, tapi yang jelas mahal yak, hehe... Dan nama2 dalam bahasa Italy pun diabadikan dalam nama2 kopi: espresso, mocchacino, capuccino, cafe latte, cafe macchiato, blablabla. Kopi di sana adalah kebutuhan primer. Adalah seni. Adalah uang.

Lalu lihatlah sekitar kalian. Warung2 kopi di mana2. yang dipimpin oleh Starbucks, yang meminjam istilahnya Izhar marketer kita, merupakan raja industri. Bagi kalian yang sedang mencari jati diri, jangan coba2 masuk Starbucks ya, pelayan2nya bakal nanya2 pertanyaan2 yang bikin elo makin guncang dan menyisakan trauma psikologis yang gak bakal sembuh lagi selama2nya. Mungkin syarat untuk jadi pelayan Starbucks adalah harus punya pengalaman jadi pemeriksa paspor di bandara.

Tall atau Large?

seakan2 gue tau gitu looo apa bedanya tall dan large, kasih aja apapun gue juga gak bakal nyadar

Mau tambah syrup?

Oh, adanya sirup apa aja ya Mas?

Kita punya... Vanilla, Hazelnut, Caramel, Peppermint, Raspberry, Almond, Cinnamon, Valencia, Classic, ...

upsss... nyesel deh gue nanya2... gak usah pake sirup deh.

Milk nya apa? Decaf gak? Whipped? Foam? Extra hot? Iced?

Mas mas, mau sekalian nomor HP saya aja gak? *wink* kalau emang sebegitu kepengennya kamu ngobrol sama gue, hehe...

Mas mas, boleh batal aja gak... minta kopi tubruk aja deh, pusing gue... lama2 Starbucks bakal ngasih formulir yang harus diisi dulu deh sebelum kita dapet secangkir kopi susu.

Mas mas, gue milih baju yang mau gue pake hari ini aja butuh 1 jam. Kamu yakin mau nyuruh gue milih kopi apa yang mau gue minum?



Kalau kalian mau menghindari pertanyaan2 bertubi2 tersebut, begini lah seharusnya cara kalian pesan kopi di Starbucks:

Mas, tolong minta caffe latte extra hot dan dry ukuran tall, tambah hazelnut sugar-free campur raspberry syrup, susunya yang non-fat ya kalau bisa yang fat-nya jangan lebih dari 2%, half decaf, no whipped cream, no foam. Makasih.


Hahahahah... niscaya kalian bakal jadi pembeli favorit of the life time-nya Starbucks!

Hahahahah... gue sendiri gak ada ide kopi berbentuk apa yang barusan gue pesen di atas. Kalau sampai pelayan Starbucks itu masih ada pertanyaan lain setelah gue se detail itu, mmmm.... gue gak tau lagi mesti bilang apa.

Tentu percakapan di atas gue hiperbola abis. Sebenernya gak begitu2 banget kok. Waduh gue nyebut merk Starbucks pula, ckckck, bisa2 gue dituntut! Bagi pengelola Starbucks yang baca ini, sori ya gue becanda kok, kopi kalian mantab abis, tapi kalau boleh saran tolong ya itu harganya diturunin dikit... makasih lhoo sebelumnya.

Image hosted by Photobucket.com



Semester lalu, di kelas gue, juga sempat dibahas sekilas tentang kopi. Sebenernya waktu itu fokusnya bukan ngomongin kopi. Kita lagi ngebahas sejarah komunikasi di Eropa. Hari itu kita lagi ngebahas masa2 setelah revolusi Prancis thn 1789. Setelah revolusi, muncul gerakan yang dikenal dengan Aufklärung (Enlightment, Pencerahan) dari rakyat yang menentang penguasaan masyarakat oleh para bangsawan dan istana. Pada masa itu, semua tatanan masyarakat berubah total. Yang sebelumnya aturan adalah berdasarkan hak2 istimewa yang diperoleh turun temurun, pada masa Aufklärung yang diagung2kan adalah kekuasaan di tangan rakyat, nalar, persamaan hak dan derajat di antara manusia.

Pada masa itulah mulai menjadi penting peran warung2 kopi (Kaffeehäusern) sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi. Minum kopi jadi trend karena dua hal: Pertama, karena kopi adalah minuman yang punya efek membuat kita terjaga dan satu2nya minuman jaman dulu selain coklat yang tidak beralkohol. Kenapa ini penting? karena hanya dalam kondisi terjaga dan sadar lah manusia bisa menggunakan nalarnya, dan nalar lah yang membuat manusia sama. Kopi jaman dulu adalah minuman kaum intelektual. (Vernünft Getränke).

Kedua, sebagai simbol golongan yang membedakan diri dari kalangan gereja Katolik yang bagi para revolusioner adalah "pendukung otoriterisasi kelompok atas nama Tuhan". Dulu, orang2 Katolik minum coklat (terutama di Prancis dan Spanyol), sehubungan dengan praktek puasa mereka, dan sebagai pembeda, minum kopi-lah rakyat2 biasa. (Protestant Getränke).

.
.
.
.
.

Gue gak tau, apa image para peminum kopi pada zaman modern ini. Workaholic? Orang2 yang kejar2an dengan deadline tanpa habis2nya? Atau orang2 yang khawatir dengan kemungkinan mereka lupa bahwa mereka punya jantung jadi mereka minum kopi sebanyak2nya sampai jantung mereka berdebar2 sangat keras dan dengan demikian menimbulkan perasaan aman karena setidaknya mereka tau kalau mereka masih hidup?

Atau mungkin orang2 biasa? Saking sudah umumnya kopi dan diminum oleh orang2 dari segala usia dan golongan?

Tapi, melihat trend larisnya warung2 kopi yang menjual secangkir kopi dengan harga yang jauh di atas jumlah pendapatan satu keluarga lapisan bawah pada satu hari di Indonesia, maka mungkin juga beberapa puluh tahun ke depan, kopi kembali menjadi minuman eksklusif.

Adegan di bawah terjadi pada suatu hari sekitar 20 tahun yang akan datang di suatu gedung pencakar langit di Jakarta. Percakapan antara seorang pelayan kafe dan salah satu pelanggannya:

Mau minum apa Mel?
Halo say, tolong gue minta capuccino-nya.
Ciye.. lagi tajir ya Mel sampai minum kopi?
Gue abis menang tender 5 triliun nih, jadi gue pikir gue layak lah menghambur2kan uang untuk beli kopi...


Atau... kemungkinan kedua...

Mau minum apa Mel?
Halo say, tolong gue minta capuccino-nya.
Weleh... masih deadline ya? malam ini mau lembur sampai jam berapa lagi? udah berapa minggu loe ngeliat suami loe tidak dalam keadaan tidur?
Kok tau sih? *speechless* Masih untung gue sempat kawin gitu looo...


Atau... kemungkinan lainnya lagi... mengingat warung2 kopi sekarang menjual konsep ngobrol lah sepuas2nya di sini, datanglah ke sini kalian yang lagi gak ada kerjaan...

Mau minum apa Mel?
Halo say, mmm... minum apa ya... gue juga gak yakin sih kalau gue pengen minum, gue ke sini karena gak ada kerjaan aja... bingung gak tau lagi mau ngapain di rumah... hari Senin lama banget sih, seharusnya tuh week end setengah hari aja per minggu!
Ooo, ya udah minum capuccino aja mau?
Ya boleh, apaan juga boleh, elo jual sesuatu yang bisa gue ajak ngomong gak?



Catatan: pembicaraan di atas adalah hasil rekayasa gue. Persamaan nama adalah kebetulan belaka. Yang jelas sih gue pribadi gak begitu yak, jadi cowok2 jomblo tolong jangan ilfil gitu dong sama gue *wink*

Berhubung gue sudah menyinggung2 harga, taukah kalian bahwa salah satu minuman termahal di dunia adalah satu jenis kopi berasal dari Indonesia yang namanya Kopi Luwak? Tidak ada jenis kopi lain di dunia yang bahkan mendekati harganya.

Keistimewaan kopi ini terletak di prosesnya. Jadi ada sejenis binatang bernama Luwak di daratan Sumatra dan Jawa, yang manjat pohon kopi dan makan bunga kopi, dan tidak sengaja mereka juga makan biji2 kopi yang tidak bisa habis mereka cerna, jadi biji2 itu keluar dari tubuh mereka bersama dengan kotoran mereka (hehehe...) Enzim2 dari perut Luwak-lah yang membuat biji kopi terfermentasi dan menimbulkan rasa yang tidak ada duanya di dunia. Gue gak tau, mungkin ini juga sekedar bisa2nya para marketer (semua kepala menoleh ke Izhar), tapi harga per seperempat pon kopi ini adalah 75 dollar! Itupun elo harus nunggu kalau lagi ada stok aja.

Creative Commons License

Tuesday, April 19, 2005

Voyeurisme dan Ekshibisionisme


Ambillah buku2 kajian atau text books tentang Psikologi Perilaku Seksual atau Psikologi Abnormal yang mana pun yang kalian temukan. Maka hampir dipastikan dua topik ini dibahas di sana. Voyeurisme dan Exhibisionisme. Keduanya digolongkan ke dalam perilaku seksual menyimpang. Kasus2 voyeurisme dan ekshibisionisme sudah mulai dideteksi sejak dahulu kala (jangan tanya yg lebih detail ya, mana gue inget gitu looo) dan dimonopoli oleh laki-laki. Gue gak tau apakah ada pengecualian, tapi sejauh ini gue gak pernah denger ada perempuan voyeurist atau exhibitionist.

Image hosted by Photobucket.com

Voyeurist adalah orang2 yang mencari kepuasan seksual lewat mengintip di mana orang yang diintip tidak sadar kalau sedang diintip. Dalam kegiatan mengintip ini mereka seringkali melakukan pelanggaran hukum lain (selain pelanggaran hak privasi), misalnya demi ngintip mereka jadi menyelinap atau bawa2 tangga ke halaman2 rumah orang. Yang diintip tentu bukan cewek yang lagi belajar atau lagi masak ya, tapi lagi melakukan kegiatan2 lain yang mereka bakal marah kalau diintip, misalnya lagi mandi. Gak perlu jadi cowok utk mengerti logika bahwa ngintipin cewek belajar tuh gak ada asik2nya.

Sementara ekshibitionist adalah semacam kebalikannya. Mereka adalah orang2 yang mendapatkan kepuasan seksual dari mempertontonkan bagian2 tubuh mereka atau kegiatan2 seksual mereka ke orang2 di jalanan atau di tempat2 umum dimana perilaku demikian tidak diharapkan muncul di situasi tersebut, dan sangat puas melihat keterkejutan atau ketakutan di wajah korban mereka.

Sebelum gue lanjut, gue cuma mau bilang maaf karena gue gak bisa nemuin gambar ekshibisionist yang cukup sopan utk dipajang di blog ini. Dan bagi pembaca yang dibawah umur atau yang sangat sensitif dan gampang kepikiran, tolong jangan coba2 meng-google kata ekshibisionis karena ternyata itu salah satu keywords buat situs2 porno (HA! jangan2 gue malah jd bikin kalian penasaran, weleh...)

Persamaan keduanya adalah tidak adanya persetujuan dari orang2 yang mereka libatkan. Tidak ada persetujuan dari X (sebagai korban voyeurisme) untuk diintip dan tidak ada persetujuan dari Y (dalam kasus ekshibisionisme) untuk melihat. Dengan demikian, kegiatan2 sebagai berikut tidak dapat digolongkan ke dalam voyeurisme dan exhibitionisme: tarian2 striptease di pub2, perkumpulan2 nudis, film porno, dsbg.

.
.
.

Setidaknya di antara temen2 kuliah gue dulu (gue gak yakin bgmn di dunia luar), kita kemudian menggeneralisasi abis2an istilah voyeurisme dan exhibitionisme ini. Misalnya, termasuk voyeurist kita sebut mereka yang suka baca2 sms orang, surat2 orang, pokoknya ngintip hal2 pribadi orang. dan adalah ekshibisionis bagi kita orang2 yang suka pamer. apapun yang dipamerkan, entah dalam bentuk materi atau nonmateri, orang yang lagi pamer kita bilang ekshibisionist. orang2 yang menonjolkan diri, atau yang seneng banget jadi pusat perhatian juga kita golongkan di sini.

.
.
.

Apakah kalian pernah terlibat dalam kegiatan voyeurisme dan ekshibisionisme???

.
.
.

Gue gak perlu repot2 bikin kuesioner kali ini, gue gak perlu repot2 mendengarkan kalian, karena sekarang pun, saat ini detik ini, kita sedang terlibat dalam salah satunya. hehehe... ya iyalah, dalam dunia blog begini... gue adalah ekshibisionis yang mempertontonkan hidup gue secara on line ke seluruh dunia. dan kalian adalah voyeurist, yang repot2 baca2 blog gue dan mencoba mengintip ke dalam dunia gue, BWAHAHAHAHAHA...



Image hosted by Photobucket.com smile and have a nice day! Image hosted by Photobucket.com

Creative Commons License

Saturday, April 16, 2005

waktumu yang mahal

di manakah kau sisipkan aku
di antara jadwalmu yang padat?
di manakah kau usahakan aku
di antara deadline mu yang berjajar?
di manakah kau sempat sebut namaku
di antara setumpuk hal yang menyitamu?

jangan kau bangunkan aku taman bunga
bila aku harus duduk sendirian di bangkunya.
jangan kau hadiahkan aku perapian
bila dinginmu membekukan apinya.
jangan kau hiasi aku dengan piguramu
bila kau bawa serta senyumku.

yang kuminta hanya hadirmu, lirihku.
tapi kau minta terlalu banyak, elakmu.



Image hosted by Photobucket.com

Creative Commons License

Friday, April 15, 2005

...kecemburuan Hera istri Zeus terhadap Alcmena


jadi, ini kah perempuan itu
dia yang sebabkan kamu tak kuasa konsentrasi
dan demi dia kau sisihkan aku
...dengan ketidak pedulian Theseus meninggalkan Ariadne putri Minos

inginnya ku cakarkan kuku ke wajahnya
dan kuteriakkan kata-kata kebun binatang
sambil tak lupa memotong habis bulu mata lentiknya
...dengan kemarahan Achilles terhadap Archaean di perang Troya

namun kekasih,
bukan itu caraku
bukan itu gayaku
bukan itu kelasku.

adalah caraku kekasih,
mendekati dia seperti kamu mendekatinya
lalu akan kuracuni pikirannya
...seperti racun Hydra dalam panah Hercules kepada Nessus

adalah gayaku kekasih,
merangkul dia seperti kamu merangkulnya
lalu akan kukhianati jalannya
...seperti Coronis dari Thessaly mengkhianati Apollo

adalah kelasku kekasih,
membuai dia seperti kamu membuainya
lalu akan kucuri kartunya
...seperti Heracles mencuri kekuatan Geryon yang dijaga Eurythion


Image hosted by Photobucket.com


keep your friends close and your enemy closer, kata Kathryn kepada Sebastian di film Cruel Intentions 2.

Creative Commons License

Wednesday, April 13, 2005

Ordnung Muss Sein!


Dalam salah satu kunjungannya ke Jerman sekitar 15 thn yg lalu, nyokap gue sangat terkesan dengan sistem pengaturan sampah di sini (sampah kertas, sampah dapur, sampah sampah gelas, dll). Terus nyokap gue nanya, apakah sekarang masih begitu? (dengan tampang mupeng). Padahal nyokap gue tuh tinggal di Jakarta gitu loo, Jakarta di mana terdapat tempat sampah terbesar di seluruh dunia, kekekeke... iyalah, elo tinggal lempar aja sampah loe, dan di mana sampah itu mendarat, itulah tempat sampah di Jakarta... emang nyokap gue gak bersyukur ya tinggal di Jakarta, ckckck...

Image hosted by Photobucket.com



Apakah pengaturan sampah di Jerman masih begitu? Wow jangan tanya!!! Seenggaknya gue bisa nyebutin 8 kategorisasi sampah di sini (Restmüll, Sperrmüll, Bioabfall, Leichtverpackungen, Altpapier, Altglas, Schadstoffe, Baustellenabfälle). Dan sampah gelas bisa dibagi2 lagi: gelas putih, gelas coklat, gelas apa lagi satu lagi ya? ijo? Belum lagi aturan kapan bisa buang gelas, ada jam2 tertentunya. Yang jelas elo gak boleh buang gelas pas malem2 atau week end waktunya orang2 istirahat karena berdasarkan pengalaman pribadi, buang gelas itu ributnya minta ampun, kayak org ngelempar2 piring gitu deh (pengalaman yang membahagiakan bagi gue). Di kampung2 kecil yang dikuasai nenek2 seperti Fulda, aturan2 ini lebih terasa. Jadi daripada kena omel atau daripada dilaporin ke polisi, gue seringkali harus menahan diri gila2an jika tengah malam ada dorongan utk buang gelas.

Kutipan perbincangan antara Amel Dewasa dan Amel Kekanakan:

Jangan Mel, jangan sekarang, plis plis plis... tunggu sampai besok...
AAAARRRGGGHHHH... gak bisa gak bisa gak bisa, gue udah kepengen banget niy!!
Tarik napas Mel, dalam dalam, sepuluh kali, sabar ya...

Oke, gak lama kan? Gak pake lama ya!


2 jam kemudian:

Udah pagi belum? Udah pagi belum? Udah boleh buang gelas belum?
TIDUR GIH! Masih 6 jam lagi baru boleh.


6 jam kemudian:

Ayo buang gelas ayo buang gelas *jingkrak2 kegirangan*
Aduh sori Mel, gue baru inget, ini week end, yahhh kita harus nunggu 2 hari lagi...
GRRRRRHHH


Nah, sekarang kalian mulai bertanya2, apa2an nih Mel? Dan gue bakal jawab, inilah salah satu contoh kompulsivitas orang2 Jerman. Bukan, bukan tentang kebersihan atau issu2 lingkungan, tapi tentang obsesi orang2 Jerman terhadap keteraturan.

Dari suatu statistik tentang Stereotipe Orang2 Jerman di Mata Orang Asing, salah satu yang ada di peringkat teratas adalah teratur, selain kaku dan penjelajah dunia (budaya Urlaub ke luar negeri).

Sudah merupakan praktek yang umum di setiap kelas Landeskündliche Konversation, di kelas2 bahasa Jerman buat orang asing, untuk membahas mentalitas Jerman yang satu ini. Betapa si X (orang asing yang malang) pada tengah malam ingin menyeberang jalan, kebetulan bersamanya adalah orang Jerman, si orang Jerman akan nunggu sampai lampu buat pejalan kaki hijau, walaupun gak ada tanda2 keberadaan satu mobil pun di sana.


Image hosted by Photobucket.com
di Jerman ini artinya:
boleh jalan - tidak boleh jalan
terlepas dari ada mobil lain atau enggak
terlepas dari jam berapa saat itu


Ada lagi satu cerita yang bener2 susah gue ngerti maksudnya pas pertama kali gue denger. Jadi ada seorang bapak2 tua yang tinggal di pinggir jalan tol. Pada suatu hari dia mengamati bahwa ada lubang di jalan tol itu. Sangat berbahaya bagi para pemakai jalan. Berhubung dia adalah pensiunan pengaspal jalan, dan dia punya sedikit sisa aspal di rumahnya, maka di-aspal lah olehnya jalan yang lubang itu. Tapi ternyata itu gak boleh. Ada peraturan yang bilang bahwa hanya pemerintah daerah yang boleh mengutak-atik sarana umum, dan bapak itu harus bayar denda akibat kelakuannya itu.

Apakah kalian ngerti? Ataukah kalian sebingung gue ketika pertama kali denger ini? Mari gue jelaskan logika di balik ini melalui suatu perumpamaan. Bayangkan di kampus loe ada lampu yang gak berfungsi gara2 ada gangguan kabel atau apa, lalu ada orang2 yang merasa ahli di bidang listrik dan ngutak ngatik semuanya sampai akhirnya malah jadi rusak gak karu2an. Nah, untuk menghindari itulah, makanya, tidak ada yang boleh menyentuh sarana umum kecuali yang berkepentingan.

Cara orang menghayati peraturan, di Jerman, adalah sudah lebih ke masalah prevensi. "supaya segalanya teratur supaya tidak begini tidak begitu". Sementara cara berpikir gue masih ... masih belum sampai sana lah yang jelas. Bagi gue yang penting niat bapak itu baik, ingin menolong. Bagi gue yang penting gak ada mobil, jd ngapain melototin lampu kalau mobil aja gak keliatan...


Image hosted by Photobucket.com


Nah, gue ajak kalian agak mundur sedikit, untuk mendengarkan apa kata para pemikir Jerman sendiri tentang aturan?

Ordnung ist nicht alles,
aber ohne Ordnung ist alles nichts!

(Aturan bukan segala2nya,
namun tanpa aturan semua gak ada artinya)

-Schopenhauer, filsuf Jerman muridnya Kant, sebenernya awalnya dia bilang ini dalam kaitannya dengan bidang kesehatan tapi kemudian diterapkan meluas di segala bidang-

Ordnung ist das halbe Leben
(Aturan adalah separuh hidup)
-sekarang antara lain dipakai di iklan produk Ordner di Jerman, kayaknya sih ini ada akar filosofisnya juga tapi gue gak tau siapa yang memunculkannya pertama kali, coba di-google sendiri kalau kalian begitu penasarannya-


Bahkan tradisi Psikologi di Jerman pun gak bisa jauh2 dari segalanya yang harus serba teratur dan terstruktur. Sekitar satu abad yang lalu, sebagai reaksi atas aliran Psikoanalisa nya Sigmund Freud di Wina yang membahas alam sadar dan alam tak sadar dan semacamnya dengan menggunakan metode analisa mimpi dan hipnotis dan semacamnya, ilmuwan2 di Jerman bilang, "Psikologi seharusnya hanya bicara tentang perilaku2 yang bisa diamati, bisa diukur dan dihitung, yang abstrak2 itu tidak ilmiah!" Lalu mulailah tradisi behaviorisme dalam Psikologi, yang mencoba mengkuantifikasikan Psikologi dengan eksperimen2 yang ketat terkendali, variabel2 yang terdefinisi jelas, blablabla. Laboratorium Psikologi pertama di dunia pun didirikan di Leipzig tahun 1879 (pertanyaan standar di ujian anak2 Psiko semester satu).

Nah, dengan filosofi2 demikian di kepala mereka, maka kerap kita dengar ungkapan Jerman ini: "Ordnung Muss Sein!" yang diterjemahkan oleh Toni sebagai "Tentu Saja Semuanya Harus Teratur!" Semua di sini ada aturannya (kayak lagunya Opi aja ya). Sampai2 gue bertanya2 bgmn mrk bisa tau SEMUA peraturan yang ada.

Salah satu temen sekelas gue di Humboldt dulu, cewek Italy lupa gue namanya siapa, dia belajar filsafat. Dia bilang, orang2 Jerman bikin begitu banyak peraturan dalam hidup mereka, karena mereka pada dasarnya adalah orang2 yang sangat tidak teratur. (gue sampe bertanya2 gini, siapa ya yang layak gue kasih Piala Juara Ngomong-Yang-Bikin-Bingung? anak2 filsafat atau anak2 hukum?) Ya, jd maksud temen gue itu, orang2 yang sangat tidak teratur tentunya butuh banyak peraturan daripada orang2 yang teratur. Gitu deh... sama seperti "hanya orang2 kotor yang mandi, kalau kita bersih gak perlu mandi". Atau "hanya orang2 bego yang belajar, kalau kita pinter ya gak usah belajar". (pendapat2 adik gue, R)

Hmmm... kayaknya dia bener deh...

Coba diinget2 lagi, terutama bagi kalian yang pernah tinggal sama orang Jerman, atau minimal pernah begitu intensif kontak sama orang Jerman. Coba diinget2 lagi apakah mereka temen2 Jerman loe itu termasuk orang2 yang teratur? Mayoritas dari orang2 Jerman yang gue kenal, ajaib!, adalah orang2 yang sangat berantakan dan gak ada teratur2nya sama sekali. Well, tentu selalu ada pengecualian. misalnya temen serumah gue Matthias, dia itu teratur seperti jam. Tapi tolong dukung gue, yang lain berantakan banget kan?

Dalam forum diskusi Ilumnia mengenai Ist Ordnung das halbe Leben? (Ini adalah pendapat2 orang Jerman tentang keteraturan, yang tentu saja intinya adalah "teratur? apa tuh?" kan semua ini udah gue pilih2, hanya pendapat2 yang mendukung gue aja yang gue masukin ke sini, kekekekeke):

Loco:
ordnung....? kann man das essen? :???:

Vivi:
Ich persönlich habe eine geordnete Unordnung. Gott wie ich diesen satz liebe. Ich finde alles was ich suche wenn ich an meiner Unordnung festhalte. aber wehe ich räum mal auf. dann finde ich gar ncihts mehr. ich kann mir einfach nicht merken wo ich es hingetan habe.

OneOfLilim:
Ordnung? *sich im Zimmer umblick und den Teppich nicht mehr sieht*
Nee nich wirklich ^^ Mein Zimmer ist so chaotisch wie ich selbst.


Hal terakhir yang menarik minat gue adalah betapa gue menangkap kesan bahwa orang2 Jerman dari generasi gue malu dengan stereotipe bahwa mereka itu begitu teratur atau taat aturan. Setiap kali ada yang mengungkit2 ttg keteraturan mereka, mereka bakal bilang "ah, enggak, gue sih gak begitu, kalau emang gak ada mobil ya gue nyebrang aja, ngapain juga nunggu lampu."

Weleh weleh... orang2 yang bilang begini, jelas mereka gak pernah ke Jakarta ya? Gak pernah ngerasain depresinya ngeliat segala sesuatu berantakan gak ada aturan. Gak tau betapa malunya berasal dari bangsa yang bertingkah laku tanpa aturan. Seharusnya mereka bangga bisa punya disiplin yang seperti itu.



maaf ya, di tulisan gue kali ini istilah2nya agak rancu dan tumpang tindih dan ketuker2. seharusnya dari awal gue membeda2kan antara aturan, peraturan, dan keteraturan. antara aturan hukum dan aturan tak tertulis. masalahnya sekarang gue udah selesai nulis dan terlalu males untuk ngedit, jd tugas kalian adalah memilih sendiri mana yang tepat, hehehe... *kabur ah*

Creative Commons License

Sunday, April 10, 2005

hanya itukah?

Image hosted by Photobucket.com


jika hanya itu yang bisa kau tawarkan padaku,
simpan saja semua kembali dalam genggamanmu.
aku lebih suka menunggu seribu tahun lamanya
seseorang yang lebih samar daripada kabut di pagi ini,
jika hanya itu yang bisa kau tawarkan padaku.

jika hanya sekian hargaku di taksiranmu,
coba periksa kembali hatimu.
buka catatanmu.
masukan manakah yang begitu mendangkalkanku?
jawablah mengapa hanya sekian hargaku di taksiranmu?

jawablah,
mengapa serendah itu kau pandang dirimu?
hingga hanya murahku yang layak bagimu?

Creative Commons License

Saturday, April 09, 2005

Kenapa Orang Menikah?

Image hosted by Photobucket.com

Berbagai macam alasan orang menikah. Peringkat2 atas alasan mereka adalah:
1. religius: untuk menggenapkan setengah dien.
2. sosial: untuk memperoleh status istri/suami di masyarakat dan segala privilege yang terkandung di dalamnya, untuk memenuhi tuntutan keluarga atau lingkungan, blablabla.
3. hukum: bagi cewek misalnya kalau mau punya anak supaya legal atau supaya jelas siapa yg mau mengaku bapak bagi anak itu, ini cuma misal. masih banyak aspek2 hukum lain dari pernikahan.
4. ekonomi.
5. biologis.
6. apa lagi ya?


Contoh devian datang dari dua orang temen perempuan gue, yang waktu nikah mereka terpisah 3 tahun, yang tidak pernah saling ketemu, yang berasal dari 2 dunia yang berbeda, berkata demikian ttg menikah:

"Yang paling penting gue cepet2 keluar dari rumah gue Mel. Gue gak tahan lebih lama lagi di rumah"
-R dan N-

wahwahwah... bokap-nyokap gue seharusnya denger ini. supaya sadar bahwa SETIDAKNYA gue betah gitu looo di rumah mereka, makanya gue gak kawin2, huehueheuhue...

wahwahwah... teman2ku, selamat datang di mulut buaya, begitu kalian keluar dari mulut singa, huehuheuhehuehe...




Oya, ini ada satu lagi contoh devian:

"Kenapa gue mutusin merit......... Pertama, URUSAN IMIGRASI!!! Fiance visa gue expired dlm 6 bulan. So, mau ga mau harus dipake or musti ngulang semua prosedur yg melelahkan dan bertele-tele itu dari awal lagi (ga la ya!!!) Oya, aturan fiance visa ini adalah: gue musti nikah setelah sampe amrik dalam waktu 90 hari."
-Y, dalam salah satu milis yang gue ikuti-




Kita (kita??? elo kali) datang dari budaya di mana menikah bukan pilihan (seperti juga lelaki bukan pilihan kata mas Iwan Fals). Dilihat dari sudut pandang mana pun di budaya kita, tidak menikah adalah perilaku menyimpang secara sosial (klasifikasi menurut Amel, 2005). Makin gue tua, makin gue percaya bahwa seseorang pun bisa bahagia dengan hidup lajang. Tapi bentukan, desakan, stempel, omongan, harapan, dari lingkungan kita, mungkin lebih tidak tertahankan bagi orang2 seperti gue (posting kali ini agak2 curhat, jadi maap2 aje ye kalau banyak cerita ttg diri gue sendiri, lagian ini kan blog gue ya terserah gue donggg..)

Mungkin ini adalah pengaruh faktor umur, tapi saat ini, gue tidak akan pernah menggunakan kata CINTA sebagai alasan gue nikah. Iya benar, gue ini mudah jatuh cinta, iya bener gue kalau lagi dibutakan cinta bawaannya pengen nikah. Tapi, seberapa lama cinta bisa bertahan? Apakah cinta itu bener2 ada?

Gue: "emang cinta itu ada om? cinta itu gak ada, gue gak percaya ada cinta. Cinta itu cuma komoditas yang digembar-gemborkan Hollywood supaya produk mereka laku."
Om Je: "cinta itu ada Mel pastinya. Rasul aja mengajarkan cinta."


Nah, jadi bingung kan gue. Mungkin seharusnya gue mulai dari definisi cinta? enggak ah males, capek mikirinnya. Oke, anggap aja cinta itu ada, toh gue juga gak yakin2 banget kalau cinta itu gak ada. Pertanyaan berikut: berapa lamakah cinta itu bertahan? sampai akhir hayat? sampai kematian memisahkan kita berdua?

Seandainya Romeo dan Juliet gak keburu mati dan dibiarkan menjalankan pernikahan mereka, apakah mereka akan cerai pada akhirnya? Seandainya dongeng2 anak2 perempuan tidak berakhir di pernikahan pangeran tampan dan putri cantik, seandainya cerita dilanjutkan, apakah lanjutannya bener2 mencerminkan "and they live happily ever after?"

Para pembaca buku2 psikologi populer bakal teriak2 protes ke gue:
1. Cinta adalah seperti iman (?) yang naik turun, kadang di atas kadang di bawah.
2. Cinta adalah seperti tumbuhan yang harus disirami dan dipelihara sehingga tidak layu mati.
3. Optimisme dan usaha keras dari kedua belah pihak-lah yang menentukan cinta itu bertahan atau tidak.
4. Cinta itu justru tumbuh sejalan dengan waktu.
5. Blablabla (gue udah nutup kuping).

Oke, sudah cukup kontroversial gue hari ini. Sekarang balik ke topik awal, mengapa orang menikah? Berikut adalah satu alasan menikah yang jadi favorit gue. Diucapkan oleh tokoh di film Shall We Dance? (Susan Sarandon). Btw, tontonlah film ini, tokoh istri di dalamnya bener2 bikin gue T.E.R.H.A.R.U. Tontonlah, terutama bagi kalian istri2 yang curiga suami kalian selingkuh, hehehe...

Image hosted by Photobucket.com

"We need a witness to our lives. There's a billion people on the planet... I mean, what does any one life really mean? But in a marriage, you're promising to care about everything. The good things, the bad things, the terrible things, the mundane things... all of it, all of the time, every day. You're saying 'Your life will not go unnoticed because I will notice it. Your life will not go un-witnessed because I will be your witness'."


Yup! A witness to my life.
Persahabatan.
Itu yang gue cari.
Seseorang dengan siapa gue akan tumbuh bareng.




Buat sahabat gue M, yang lagi pusing. To marry or not to marry, that is not the question. When is the question. Buat M yang satu lagi: hehe... thx atas chat malam ini, yang paling penting tuh elo udah tau apa yang elo cari dalam pernikahan, and don't worry about her, she'll be fine. do worry about me kekekeke...

Creative Commons License

Thursday, April 07, 2005

Books Review: The Little Prince, Life of Pi, dan The Da Vinci Codes

Salah satu agenda gue ketika pulang kemarin adalah berburu novel. Setelah derita gue selama 1,5 tahun di Jerman tanpa novel (kecuali novel2 mesum-nya Noni) kondisi gue cukup kerontang lah, seperti ikan tanpa air, seperti tumbuhan yang berhari2 gak disiram, seperti jemuran baju di tengah hari bolong. udah kebayang kan sekaratnya keadaan gue?

Ya ada sih satu novel yang sempat gue baca, novel bahasa Jerman judulnya Pustelblume, yang sampai sekarang mungkin baru gue baca 20 halaman padahal totalnya ada 300-an halaman gitu deh... berarti dengan asumsi bahasa Jerman gue gak bertambah bagus dan dengan asumsi kecepatan baca gue tetap seperti sekarang, maka kira2 gue butuh 20 tahunan di Jerman untuk menamatkan satu novel itu. Bagaimana enggak, kalau hampir setiap kalimat yang gue baca gue mesti buka kamus?

Memang sih untuk mengerti satu teks kita gak perlu ngerti setiap kata, kita cukup ngerti intinya apa. Tapi bagi gue, keasikan novel adalah justru pada detailnya, bukan pada inti bahasannya. Kalau gue disuruh baca text books ttg Asylpolitik di Jerman, HAAA dengan senang hati gue bakal secepat mungkin bacanya, gue scanning yang penting2 apa, yang gak penting gue lewatin. Dan selesai sudah. Dan kalau ada kekosongan2 di kepala gue karena gue bacanya lompat2, maka gue bakal karang2 sendiri deh hehehehe... inilah salah satu ketrampilan yang gue dapat dari kuliah di Psikologi UI: keterampilan ngecap di ujian. Tapi kalau novel? Setiap katanya, setiap pesan intrinsiknya, setiap tokohnya, harus gue tau detail. Selain itu, baca novel adalah rekreasi abis2an bagi gue. Jadi gue gak mau dan gak pernah bener2 menikmati baca novel dalam bahasa2 asing.

Nah, akhirnya, setelah membaca buku2 yang "harus baca" yang direkomendasikan temen2 gue, atau yang disebut2 di milis2, atau yang cover nya atau iklannya menarik minat gue, maka berikut adalah dua buku yang sangat gue rekomendasikan, The Little Prince dan Life of Pi. Mudah2an gue belum kehilangan minat pada akhir tulisan gue untuk menambahkan membahas alasan gue kenapa gue gak suka dengan buku yang lagi heboh dibicarakan di seluruh dunia yaitu The Da Vinci Code.




Image hosted by Photobucket.com

Menurut gue buku ini adalah buku buat orang dewasa, walaupun pengarangnya bicara dalam bahasa anak2 (reading level untuk anak2 umur 9-12 thn), ceritanya tentang seorang anak, dan konon adalah juga bacaan favorit anak2. Bentuknya pun fabel, di mana di dalamnya kalian bakal baca rubah, ular, bunga berbicara. Tapi tetap, menurut gue, ini adalah buku buat orang dewasa.

Buku ini bisa diperoleh dengan mudah di toko buku terdekat, dengan harga yang relatif (entah relatif mahal atau relatif murah), Rp. 15.000 untuk buku yang kira2 seratus halaman dan penuh dengan ilustrasi dan ukuran hurufnya lumayan besar.

Buku ini, secara keseluruhan bernada sedih. melankolis. ada yang bilang ini semacam autobiografi penulisnya juga. Buku ini intinya adalah ttg seorang pangeran kecil yang mengembara dari planetnya mengunjungi planet2 lain dan akhirnya sampai di bumi. di perjalanan dia ketemu dan bicara sama tokoh2 yang bertingkah laku menarik, yang bagi gue adalah sindiran2 buat orang dewasa.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan utk baca buku ini? Temen gue ada yang baca buku ini dalam waktu 1 jam. karena memang isinya sederhana. gue butuh waktu lebih dari 2 jam, karena bagian2 tertentu bener2 gue suka dan gue baca berulang2, hhhh... Nyokap gue baca buku ini dalam waktu berhari2, karena selain dia itu sok sibuk, dia juga gak suka sama buku ini, jadi gak minat2 banget gitu deh bacanya.

Bagian favorit gue adalah bab 21, ketika pangeran ketemu rubah, dan rubah itu ngajarin dia ttg komitmen (interpretasi gue). memang di sini maksudnya komitmen secara luas, tapi gue suka memikirkannya sebagai komitmen antara pasangan. mulai dari apa perlunya kita bikin komitmen, bagaimana kita membuat komitmen, ritual dalam komitmen, sampai bagaimana jika kita kehilangan seseorang/sesuatu dengan siapa/apa kita berkomitmen. Well, setelah gue coba deskripsikan bab ini kok jadi biasa banget ya? gue gak tau lagi bgmn memasukkan kedahsyatan buku ini di sini. kalian baca aja deh. Btw, kalau mau baca, dari hlm pertama ya, jgn langsung ke bab 21, karena walaupun setiap bab berdiri sendiri tapi bagi gue efeknya kumulatif. paling bagus kalau kita bacanya berurutan.



Image hosted by Photobucket.com

Buku ini menang hadiah Booker Prize thn 2002 kalau gak salah. Dan buku2nya Booker Prize rupanya adalah selera gue banget, gue juga gak yakin sih, soalnya setau gue cuma ada dua buku pemenang Booker Prize yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu buku ini dan God of Small Things. dan dua2nya, needless to say, gue suka banget!

Tentang apa buku ini bicara? Dua tema utamanya adalah tentang dunia hewan dan teologi. Tokoh utamanya juga anak2, anak India, mulai dari masa kecilnya sampai pas kejadian utama terjadi pas dia umur 16 tahun. Jadi anak India ini, namanya Pi, hampir bisa dibilang tinggal di kebun binatang karena bokapnya pengelola dan pemilik kebun binatang.

Menu utama buku ini terjadi di tengah samudra atlantik, ketika kapal laut yang ditumpangi Pi karam dan dia satu2nya yang lolos dari maut dan hidup terapung2 dalam waktu lama di atas sekoci. Well... gak tepat sih kl gue bilang dia satu2nya yang lolos, karena bersama dia di sekoci adalah seekor harimau. dan cerita ini adalah bgmn dia hidup di tengah samudra, dengan badai dkk, dengan ikan2 hiu di bawah, tanpa makanan buat dirinya apalagi buat si harimau. bgmn dengan akal manusia dia bisa bertahan hidup.

Gue jadi inget satu cerita yang gue lupa gue baca di mana. Dalam suatu setting pelatihan motivasi kalau gak salah, trainer bertanya ke para peserta, bagaimana cara nelayan yang mencari ikan di tengah laut bisa membawa ikan2 hasil tangkapannya ke daratan dalam kondisi fresh tanpa ikan itu jadi rusak? Jelas ini bukan tentang kapal2 besar yang sudah punya mesin langsung untuk mengalengkan ikan di atas kapal atau yang punya freezer yang besar. Ini ttg nelayan menengah, yang bisa cukup jauh berlayar ke tengah laut tapi gak cukup besar sampai bisa punya mesin2 macem2.

Jawabannya adalah, di dalam bak ikan, taruh lah satu ekor hiu. Apakah hiu itu gak makan ikan2 itu? tentu dimakannya, tapi tidak dalam jumlah besar. ada sedikit ikan yang jadi korban, tapi sisanya akan terus aktif di dalam bak kejar2an sama hiu, dan dengan demikian terus hidup dan fresh begitu sampai daratan.

Kira2 begitu juga yang dibilang Pi pada akhir cerita. Dia bisa bertahan hidup justru karena ada harimau itu bersama dia. Kalau harimau itu gak ada mungkin sudah lama dia gila sendiri tanpa ada yang dipikirin, mati gara2 gak punya tujuan dan motivasi. Aneh? buku ini memang aneh. sangat orisinil. Gue ucapkan selamat membaca.





Oke, itu buku2 favorit gue.
Sekarang gue mau kasih alasan, kenapa gue gak suka baca buku The Da Vinci Code. Ini adalah buku2 sejenis Dunia Sophie atau Supernova. Lihat persamaannya? Ini adalah buku2 yang mencoba memasukkan unsur fiksi ke dalam suatu disiplin ilmu. Dalam Dunia Sophie, kita dipresentasikan dengan teori2 filsafat Barat dan Yunani melalui anak yang bernama Sophie. Di buku Supernova, kita disuguhi teori2 fisika yang dibumbui kisah cinta segitiga tokoh2nya. Di buku The Da Vinci Code, dipaparkan sejarah agama Kristen dan agama kepercayaan sebelum Kristen yaitu agama pagan, diselip2kan dalam cerita pembunuhan dan action dan detektif.

Gue masih bisa menikmati Supernova, karena cerita cintanya yang sangat mengharukan, dan puisi2nya yang dahsyat. Tapi The Da Vinci Code, walaupun gue baca sampai akhir (gak seperti Dunia Sophie yang bahkan gak selesai2 gue baca), entah gimana gue terganggu bacanya.

Pertama, dari segi teknis terjemahan, ini buku banyak sekali meloloskan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. gue jadi mikir, ini editornya pada ke mana sih? padahal yang gue baca tuh cetakan ke 8 atau sekian gitu deh. yang jelas sudah berkali2 dicetak tapi kok masih banyak kesalahan sepele ya... coba bayangin derita gue yang harus berkali2 baca kata memunyai padahal yang bener adalah mempunyai. Di akhir2 buku gue sampai teriak bete kalau gue ketemu kata memunyai (histeris). Itu satu contoh dari satu kata, ada kata2 lain dan ada hal2 sepele lain seperti salah eja, salah memenggal kata, dll gue gak inget detailnya.

Kedua, buku ini gak jelas batasnya antara fiksi dan non fiksi. Dan itu sangat mengganggu gue selain juga membuat gue bertanya2 kenapa buku ini gak ada yang protes? (walaupun banyak buku kemudian yang terbit untuk menyanggah buku ini). Maksud gue, di bagian mana gue bisa tau ini adalah fakta yang sudah terbukti lewat metode2 dalam ilmu sejarah, dan mana yang merupakan karangan penulis? Dan kalaupun ini adalah 100% fiksi pun, apakah etis untuk mendiskreditkan nama orang2 nyata dan institusi2 nyata (misal Vatikan) dalam suatu cerita fiksi? gue bingung kenapa tidak ada gereja yang protes dan melarang buku ini terbit? inikah kebebasan bersuara itu? jadi gue boleh nulis apa pun yang gue mau?

Misalnya, di situ dibilang bahwa agama Kristen yang asli sudah banyak dirubah2 oleh penguasa2 dalam sejarah, dimulai dari zaman Kaisar Konstantin pada thn 300-an Masehi. Bahwa Yesus tidak mati karena disalib (well, ini juga gue tau sih karena di Al-Quran juga dibilang begitu). Tapi kemudian dibilang juga bahwa dia hidup sampai tua, memperistri Maria Magdalena, dan punya keturunan. Dan diceritakan bahwa bukti2nya ada tersimpan di suatu tempat di dunia ini dan dijaga sangat ketat menunggu utk dipaparkan ke seluruh dunia. HA!

Ketiga, gue gak suka sama bagian fiksinya. bagian pembunuhan dan pengusutan dan pemecahan kode dan blablabla nya yg jd bumbu. Plotnya begitu dipaksakan, terlalu banyak kebetulan, klise, pokoknya gak ada asik2nya. Kenapa gue baca sampai akhir? Karena temen2 kencan gue di Jakarta itu begitu ngaret2nya sampai2 gue gak ada kerjaan lain kalau nungguin mereka jadi gue baca aja deh, hehehe...




more books review later: Chick Lit series, The Curious Incident of A Dog in the Night Time, and Veronika Decides to Die.

Creative Commons License

Wednesday, April 06, 2005

antara aku, kamu, dan suamimu

di pintuku kamu mengetuk,
seorang perempuan dengan hati pedih.
di hadapku kamu lalu duduk,
seorang perempuan dengan mata berlinang luka.

tanyamu heranmu marahmu
melihat aku bahkan tidak secantik kamu,
tidak semenarik kamu, tidak secerdas kamu,
tidak sesukses kamu, tidak seterhormat kamu,
dan jelas tidak selembut kamu.

tidak percayamu
melihat aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.


namun tetap,
suamimu lebih memilih datang padaku.
namun tetap,
suamimu lebih memilih berbagi denganku.


membesar bola matamu,
luntur maskaramu,
tercekat suaramu.
namun sebenarnya pandanganmu padaku lah
wahai perempuan...
yang begitu sebelah mata.
yang membuatku matikan rokokku,
menatap matamu lekat-lekat dan mengakui padamu

bahwa rahasiaku terletak pada
keterampilanku mendengarkan cerita,
membuat orang tertawa, membuat orang merasa nyaman,
membuat orang semangat, membuat orang menikmati hidup.
membuat segalanya jadi lebih sederhana.

keterampilan itulah
wahai perempuan...
yang membuat suamimu ketagihan aku.

Image hosted by Photobucket.com


Fikha: apa istilah elo, Imesh, dan Nina untuk nyebut ini? Hasrat pecun dalam diri? O MAI GAWD!!! anyway, niat hati sih bikin cerpen, apa daya kosakata gue masih belum cukup.

Creative Commons License

Monday, April 04, 2005

semalam terlalu singkat

semalam terlalu singkat,
bagiku untuk menapaki jejakmu.

dan bila hanya satu malam yang bisa kamu berikan,
jangan biarkan aku tau,
tinggalkan saja aku dalam harapku.

tinggalkan saja untukku kuasmu,
dengannya kan kuabadikan tuturmu,
pada hari aku tau kau tak kan kembali.


Image hosted by Photobucket.com

Creative Commons License

Friday, April 01, 2005

perahu tak berjangkar

Image hosted by Photobucket.com
Photo by Stefan Otto

tidak hendak aku menetap,
namun sekadar transit.
sekedar mengistirahatkan beban,
sambil menikmati musim
yang terpantul di senyummu.

aku akan tinggal,
hingga saat aku bosan.
dan sampai saat itu tiba,
manfaatkanlah aku.

Creative Commons License