about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Saturday, July 30, 2005

Ayam Bakar Megaria


Dulu waktu gue baru bisa baca, gue pernah punya buku besar kumpulan dongeng dari seluruh dunia yang tebal penuh ilustrasi. Sekarang buku itu gak tau ke mana. Ada satu cerita yang samar2 gue inget, kalau detailnya salah tolong dikoreksi ya.

Once upon a time, ada seorang putri kerajaan yang menyamar jadi rakyat biasa dan mengetuk pintu sebuah rumah untuk diperbolehkan bermalam di sana. Pemilik rumah, seorang ibu tua, entah bagaimana curiga bahwa perempuan di hadapannya adalah putri, untuk membuktikannya dia menyuruh anak laki2nya menumpuk 17 kasur dan di tumpukan paling bawah diletakkannya biji2an. Putri itu kemudian dipersilahkan tidur di atas tumpukan kasur tersebut.
Keesokan harinya, si ibu bertanya, "bagaimana tidurmu semalam, Nak?"
"Saya gelisah semalaman, Bu. Ada sesuatu seperti biji2an yang mengganjal punggungku dan mengganggu tidurku."

Dan dengan demikian, terbongkarlah kedok sang putri.


Dan dengan demikian, terpatri di benak seorang anak kecil bernama Amel, bahwa seorang putri itu selayaknya sensitif. Ada biji2an di bawah 17 lapis kasurpun seharusnya terasa.

Namun hidup rupanya tidak sedramatis dongeng anak perempuan. Tidak perlu waktu lama bagi gue untuk tau bahwa gue ini adalah orang yang paling tidak sensitif di seluruh dunia.

Ambil contoh telinga gue. Dulu waktu gue masih SD, kalau ada telepon buat nyokap kebetulan gue yang ngangkat, nyokap gue selalu tanya, "siapa yang nelpon?" jelas gue gak tau jawabannya. "laki2 atau perempuan?" hmm.. pertanyaan bagus, gue juga gak tau apa jawabannya, hehe.. Gue gak bisa bedain suara laki2 dari suara perempuan di telpon! Boro2 mengenali itu suara siapa. Memang semakin gue tua semakin telinga gue sensitif, rupanya sensitivitas juga bisa dipelajari ya. Tapi ya gitu deh, kalau gak ada bakat emang susah.

Nyokap gue selalu mengaitkan ketidaksensitifan gue dengan kurang menaruh perhatian. Jadi, bukannya gue gak sensitif, tapi yang ada gue gak perhatian. Nyokap gue pernah curiga bahwa gue dulu waktu kecil autis. Tidak memperhatikan apa2, tidak peduli apa2, asik dengan dunia gue sendiri. Kalau gue disuruh jaga adek bungsu gue R yg lagi tidur di kasur, pasti ujung2nya adek gue itu jatuh. *gak ngaruh banget gitu loh ada gue atau gak ada gue di sana*. Makanya R sekarang agak2 korslet gue rasa karena dia kebanyakan jatuh di bawah pengawasan gue waktu masih bayi dulu, hehe..

Lidah gue juga sama aja. Ada orang2 yg merasa semua makanan itu kalau bukan enak ya enak banget. Bagi gue, semua makanan ya begitulah rasanya, seperti seharusnya. Misalnya ada yang bilang "kentang goreng ini enak", lalu dia tanya gue bgmn menurut gue. Hmm.. gue pasti bingung, apa ya… yah.. rasa kentang goreng lah, apalagi emangnya? Masak rasa es krim sih? Pusing kan gue. Kalau gue disuruh membandingkan dua rasa kentang goreng yg ada di hadapan gue pada saat yang bersamaan, mungkin gue masih bisa bilang mana yang lebih enak dari yg mana, tapi yg jelas, chip di kepala gue terutama bagian menyimpan ingatan tentang rasa sangat tidak berfungsi.

Panca indera gue yang lain sama payahnya. Dulu nyokap gue pernah bilang, kalau pakai minyak wangi, pakailah satu botol sampai habis, baru ganti lagi. Dengan demikian orang akan mengaitkan bau tertentu dengan diri kita. Yang tidak akan terjadi kalau kita tiap hari ganti parfum. Namun, bagi gue, tidak pernah gue mengaitkan satu bau tertentu dengan nyokap gue betapapun keras usahanya mencoba, hehe. Bagi gue cuma ada dua bau: bau wangi dan bau sampah. Variasi di antara dua ekstrim itu tidak terdeteksi oleh indera penciuman gue, huhuhu…

Tapi Tuhan memang Maha Adil. Sebagai kompensasi dari panca indera gue yang sangat tidak sensitif, diberiNyalah gue hati yang sangat sensitif *silahkan protes, paling protes kalian nanti gue delete, huahahaha.*

Makanya gue merasa gue bikin kesalahan fatal dengan tema reportase gue. Bagaimana cara gue bercerita ttg makanan dengan sensitivitas yang sangat minim ini? Kalau kalian mau tau, di Jerman gue masak tidak pernah dengan takaran yang pasti, misal: masukkan ke dalam adonan setengah sendok teh gula, weleh… apa bedanya gula setengah sendok teh atau setengah sendok nasi di lidah gue? Bagi gue gak ada bedanya. Jadi ujung2nya pake feeling aja. Tapi temen2 gue yang cukup sial sehingga sering ngerasain masakan gue pasti bilang, sepuluh kali gue masak spaghetti, sepuluh rasa yang berbeda yg ada. Bagi koki2 kelas dunia di Fulda seperti Memey, Ody, dan Shinta, mereka pasti stress menghadapi gue. Misal: "masukkan garam secukupnya". Secukupnya? Bagi gue sama artinya dengan semaunya. Jadi ya, mau-mau gue lah, huahuahua….

Oke, janji adalah janji, jadi gue tetap akan bikin reportase makanan, tapi jangan protes kalau gue akhirnya nanti akan lebih banyak "murni reportase" tanpa pendapat pribadi. Makanan pertama yg akan gue laporkan hari ini adalah Ayam Bakar Megaria. Teman kencan gue hari ini adalah M. Samar2 gue inget pernah makan ayam bakar ini suatu waktu bertahun2 yg lalu, sama M juga, tapi lupa detailnya. Hari ini M nemenin gue ke British Council yang sudah pindah tempat ke gedung Diknas di Senayan. Setelah ribet nyari lokasi BC yang baru dan setelah akhirnya urusan BC selesai, niat hati kita mau nonton Gie, memuaskan ngidam gue hehe.. tapi apa daya tangan tak sampai.

Jalanan di hari Sabtu di Jakarta padatnya minta ampun. Bisa jadi orang2 Jakarta pada ke Puncak dan Bandung, tapi jangan2 org2 Puncak dan Bandung malah ke Jakarta, jd gak ngaruh, udah gitu berhubung libur jd org2 pada hilir mudik gak karuan. M sengaja ngelewatin pertokoan Setiabudi yang belum pernah gue liat, terus kita lewat TIM yg ternyata udah gak muter Gie lagi, jadi kita ke Megaria di dekatnya. Memang ada Gie di studio 6, tapi jamnya itu loh, mesti nunggu 2 jam lebih untuk pemutaran berikutnya, hmm.. jadi batal lagi deh nonton Gie, huhuhuhu….

Akhirnya kita makan. M nanya, mau makan batagor atau ayam bakar Mel? Hmm.. kalau dua2nya aja gmn M? hehe… enggak lah becanda, di Jakarta kemampuan makan gue menurun drastis. Gue pilih ayam bakar karena:
1. Kiosnya demikian penuh jadi pastinya enak kan?
2. Mereka bakar2 ayam di depan kios dan baunya ke mana2 mengundang penasaran gue. Kayaknya enak nih.

Dan setelah gue cicipin rasnaya memang enak. Apa ya yang membedakannya? Gue juga gak tau. Yang jelas sambelnya enak. Gue curiga sambel itu digoreng deh. Sayangnya waktu itu M pas banget lagi cerita gossip yg sangat menarik jd gue bener2 lupa kl gue mesti bikin reportase jd gue lupa sekalian wawancara M ttg pendapatnya, hehe.. *ketauan banget amatirnya*. Oya, gue juga bingung kenapa ya lalapan itu selalu ada kol mentah? Memangnya ada yang makan kol itu ya? Gue dan temen2 gue selama ini yg gue perhatiin sih gak pernah nyentuh kol itu, tapi kenapa selalu ada kol di lalapan? Bete gue.

Mengenai harganya, mmm… rata2 lah. Dan gue juga suka tempatnya yg lumayan bersih dan menyediakan keran dan sabun cair sehingga kita bisa cuci tangan dengan layak.

PS: sori tanpa foto soalnya HPnya M baterenya abis dan gue sama sekali gak ada rencana bikin reportase awalnya jd tanpa persiapan. *amatiran kok dipamerin*.

Creative Commons License

Tuesday, July 19, 2005

Plan C

Ada orang yang hidup di masa lalu. Entah karena ada kejadian2 masa lalu yg sangat traumatis sehingga gak bisa dia enyahkan dari kepalanya dan selalu terbayang2 atau bahkan mempengaruhi kehidupannya yg sekarang, atau (kemungkinan kedua) karena masa lalunya demikian indahnya sehingga dia gak rela untuk beranjak dari sana.

Lalu ada yang hidup di masa sekarang. Apa yang ada di panca indranya, di sensasi dan persepsinya saat ini adalah yg paling penting. Hari ini adalah yg nyata, masa lalu sudah lewat dan masa depan gak penting, bagaimana nanti aja.

Memang setiap orang pasti punya masa lalu, masa kini, dan masa depan, namun mana yang dia jadikan fokus, itu yang gue maksud. Gue bukan orang yg terlalu kepikiran sama masa lalu. Puisi2 gue memang ttg dendam dan sakit hati dan semacamnya tapi temen2 deket gue pasti tau gue ini pelupa abis, ingatan gue terbatas, jd kejadian2 masa lalu gak terlalu penting bagi gue. Hanya pengalamannya yg gue ambil, gue abstraksikan sehingga bisa selalu gue jadikan pelajaran.

Kalau dibilang orientasi gue masa kini, bukan juga. I am not really "here-and-now". Sehubungan dengan ulang tahun gue, gue memang selalu berpendapat bhw tahun terbaik gue adalah tahun yg sedang gue lalui. tapi masa kini gak pernah bener2 gue pikirin, cuma gue jalani aja, gue tidak terokupasi dengan masa kini. hmm.. gimana ya cara gue jelasinnya, mudah2an sdh cukup jelas.

Orang2 mendefinisikan gue sebagai orang yg terobsesi masa depan. Setidaknya temen2 gue di Berlin selalu ngetawain gue karena gue (gak sadar sih awalnya) selalu bikin Plan A, B, C sampai Z. Bahkan kalau mau nonton doang harus ada Plan. Apalagi kalau nontonnya sambil menghindari pihak2 tertentu, ya nggak sih adek2? bwahaha... Di mata mereka gue ini kompulsif bikin rencana. Btw, inilah yg gue cinta dari Jerman: budaya bikin rencana, semua harus ada rencananya, bahagia sekali gue kalau udah menyangkut rencana2an begitu.

Nah, hari ini lagi-lagi kepala gue sibuk menyusun rencana, hehe.. Gue sudah sampai Plan C kali ini tentang apa yg bakal gue lakukan bulan Februari depan. Plan C gue adalah gue bikin tesis di Jerman, tapi tidak di Fulda. Jadi kalau ada temen2 yg tinggal di kota2 besar di Jerman yg perpustakaannya canggih dan lengkap koleksinya, dan bersedia sharing tempat tinggal sama gue selama 5 bulan, bilang2 yak... thx.

Creative Commons License

Monday, July 18, 2005

Ternyata...

ternyata...
sulit juga menahan diri untuk gak ngebahas tempat kerja gue di sini ya, huhuhu...

ternyata...
kesalahan terbesar mereka lakukan di hari pertama yaitu ngasih gue meja sendiri lengkap dengan sambungan internet, huahuahuah... yg ada gue nge-blog.

ternyata...
blog gue ancur abis kalau dibuka pakai IE, dan daripada komputer ini meledak gara2 kegaptekan gue salah install firefox, mendingan gue berkorban dengan cara ganti template yg lebih user friendly untuk beberapa bulan ke depan. jd template pandora's box gue simpen dulu buat kapan2.

ternyata...
ini yang namanya jet lag.

Creative Commons License

Thursday, July 14, 2005

Pengumuman Tema Reportase


Malam ini, sama halnya seperti suatu malam lebih dari 5 bulan yang lalu, gue juga memandang ke luar dari jendela ini. Malam ini, sama halnya seperti suatu malam lebih dari 5 bulan yang lalu, adalah malam terakhir gue di kamar gue.

Kalau 5 bulan yang lalu yang gue liat adalah hamparan salju, putih, bagaikan kapas ditebar di jalanan, bagaikan ranting2 dilapisi bubuk gula, maka malam ini yang gue liat adalah bunga2 warna warni, pohon2 berdaun rimbun, mobil2 tanpa atap. Kalau 5 bulan yang lalu pada jam yang sama tak terlihat satu manusia pun di jalanan, maka malam ini, selarut ini pun masih ada saja turis2 yg baru pulang setelah menikmati kehidupan malam Fulda (soalnya di depan asrama gue ada hotel), masih ada satu dua rombongan mahasiswa yg pulang katarsis setelah minggu yang sarat ujian.

Besok gue harus serahkan kunci kamar. Barang2 gue sudah aman di gudang2 temen2 gue. Barang2 yang mau gue bawa ke Jakarta juga sudah rapi :-) Kamar ini kosong, hanya ada laptop ini, yang sebentar lagi pun bakal gue beresin.



Mulai hari Senin, gue bakal mulai tahap baru hidup gue yaitu magang (huhuhu, selamat menikmati hidup baru ya Mel). Gue bakal magang di Jakarta di suatu tempat yg sebaiknya tidak akan pernah gue bahas secara on line, mengingat pengalaman2 pahit para blogger yang membahas tempat kerja mereka di blog mereka, lengkap dengan keluhan2 ttg pekerjaan, gossip2 atasan, intrik2 kantor, dll tanpa sensor (bego banget kan), dan ujung2nya ada yg dipecat gara2 itu, hehe… contoh yg terkenal dan diliput sama blogger adalah blog milik (mantan) pramugari, tapi sori ya gue gak nyatet link nya.

Jadi, mungkin aja gue bakal cerita ttg magang gue walau dengan penyamaran abis2an di sana sini. Atau mungkin juga gue sama sekali gak menyentuh masalah ini. namun yang jelas, satu tema reportase gue selama 4 bulan ke depan adalah



Image hosted by Photobucket.com



makanan!


Setelah Dimas membahas makanannya di Berlin, setelah ngikutin blognya Shinta dan Elvy yg bikin liur menetes, dan setelah janji2 manis temen2 gue di Jakarta yg mau ngasih tau gue makanan2 eksotis dari Indonesia (sahhh... paling tahu campur, pokoknya sekecil apapun bakal gue tagih, apalagi yg sempet2nya janji2in gue Irish Coffee bikinan sendiri, wahh bakal gue tagih banget ini sih), kali ini gue bakal meliput semua makanan di Jakarta yg tidak gue makan di Jerman. Jadi seandainya gue mengalami lagi gangguan pencernaan, gue gak perlu ke dokter ya, cukup kalian aja yg analisa dan saran gue mesti ngapain, huhuhu….

Nah, sekarang, masalah teknis dan yang terpenting. Mari kita berharap gue bisa gunakan akses internet punya kantor dengan semaksimal mungkin, karena kl gue disuruh on line dari rumah atau dari warnet, aduh makasih deh, yg ada syaraf2 gue putus semua saking makan atinya sambungan2 internet di sana. Gue udah sesumbar bakal bikin reportase begini taunya gue gak nulis apa2 selama 4 bulan di Jakarta, huhuhuhu, kalau itu terjadi minimal kalian tau lah apa sebabnya…




PS: Kalau ada di antara kalian yg bisa kasih petunjuk, di mana gue bisa cicipin Kopi Luwak, terutama dengan harga mahasiswa, gue akan sangat berterima kasih.

Creative Commons License

Wednesday, July 13, 2005

dia yang kamu benci


Image hosted by Photobucket.com

memang benar,
bahwa kamu tidak pernah membuatku menangis,
membuatku alami musim bunga lalu badai salju
hanya dalam pergantian detik. tidak pernah.
tidak seperti dirinya yang kamu benci.
dia kerap mengheningkanku dalam laraku,
dia kerap membenturkanku dengan resahku.

kamu memang selalu mendorongku gunakan logikaku,
mendorongku berkepala dingin. selalu.
tidak seperti dirinya yang kamu benci.
dia kerap mengabaikan perhitungan probabilitasku.
dia kerap menyemangatiku untuk gunakan intuisiku.
dia kerap mengapresiasi ekspresi emosiku.


namun maaf,
kamu juga tidak pernah membuatku tertawa.
tidak seperti dirinya yang kamu benci.
kami menertawakan kebodohan kami,
kami menertawakan semua yang tidak pada tempatnya
(dan bukannya membiarkan diri kami terganggu olehnya).

kamu juga tidak pernah tergerak dengan spontanitasku.
untuk berlari di pasir putih bertelanjang kaki,
untuk berbaring di udara terbuka semalaman
dan bicara tentang bintang,
untuk berjalan perlahan-lahan di tengah kota
di bawah siraman hujan deras tanpa payung,
untuk membuang-buang waktu dan berhenti
menghirup harum bunga di pinggir jalan.
sama sekali tidak seperti dirinya yang kamu benci.

dan dia mengerti puisi-puisiku.
jadi maaf,
bila kuputuskan untuk kembali
padanya yang kamu benci.
maaf,
jika akhirnya hanya kata maaf
yang kusisakan untukmu.

Creative Commons License

Sunday, July 10, 2005

meskipun demikian


Image hosted by Photobucket.com

menunggumu,
meski melelahkan,
adalah satu-satunya yang aku tau.

memperhatikanmu,
meski menyakitkan,
sudah menjadi kebutuhan bagiku.

dan mencintaimu,
meski dalam diamku,
menghadirkan gemuruh dalam duniaku.

Creative Commons License

Friday, July 08, 2005

bagaimana mungkin


Image hosted by Photobucket.com

ketika kembali kudengar darimu kabarmu,
tanyaku pada diriku:
benarkah waktu telah sebanyak itu berlalu?
selamanya tidak akan pernah kucari tau darimu
alasanmu pergi dulu, alasanmu kembali kini.

aku berhasil perintahkan hatiku melupakanmu
pada detik kamu keluar lewati pintu itu.
namun ketika kembali kudengar darimu kabarmu,
tanyakan pada diriku:
bagaimanakah aku selama ini bertahan tanpa kamu?

aku tidak punya jawabannya.
seperti juga aku tidak punya jawaban,
bagaimana mungkin aku masih punya hati
untuk kupertaruhkan kembali di tanganmu?

Creative Commons License

Monday, July 04, 2005

simpan itu semua

Image hosted by Photobucket.com

ketika semua peristiwaku
ingatanku adalah kamu,
simpan semua pertanyaanmu
inilah ketetapanku.

lihatlah aku,
kamu akan sadari aku sungguh-sungguh.
lihatlah aku lebih teliti lagi,
kamu akan temukan aku tidak berkedip.

ketika semua panca inderaku
rasaku adalah kamu,
simpan semua tidak percayamu
inilah inginku.

masih di sini aku menunggumu
tidak beranjak aku dari berdiriku.

masih di sini aku menunggumu
menunggu kamu putus dari dia.

Creative Commons License

perempuan penyihir


Image hosted by Photobucket.com

perempuan itu pakai susuk, sayang
yang dia tanam di dagunya
hingga tergila-gila kamu padanya
tersamar keriputnya di matamu.

kukatakan ini bukan karena cemburu
seperti selalu kamu tuduhkan padaku
aku hanya ingin sadarkan kamu
dari pengaruh perempuan penyihir itu.

bagaimana harus kubuktikan, sayang
tampaknya hanya aksi yang bisa yakinkan kamu
kubuktikan dia pakai ilmu hitam
lihatlah foto-foto yang kubawa ini.

yang berkilauan ini jarum susuknya
sulit sekali aku menemukannya
ternyata dia sembunyikan di dagunya
padahal sudah kubongkar isi kepalanya.

jangan hiraukan yang itu, sayang
itu foto dari sisa-sisa bola matanya
perhatikan saja foto jarum susuknya
telah kuselamatkan kamu dari perempuan penyihir.

Creative Commons License

Sunday, July 03, 2005

malam ini

Image hosted by Photobucket.com


malam ini,
tolong matikan ponselmu
tolong jangan kau lirik arlojimu
tolong abaikan komputermu.

malam ini,
tataplah aku di mataku
dengarkan aku di suaraku
rasakan aku di adaku.

karena setelah malam ini,
tak akan lagi kau dengar tentang aku.

Creative Commons License

Saturday, July 02, 2005

Satu Bahasa, Bahasa Indonesia


Ini adalah bagian terakhir dari trilogi gue ttg bahasa (hehe). Baca bagian pertama di sini, dan bagian kedua di sini.





Contoh kasus:
Baru-baru ini, dua orang temen gue A dan B berselisih. Musabab perselisihan mereka adalah kata-kata berikut: nanar, limbung, tohok, sangkil, dan mangkus. Berhubung gue lagi kebetulan available, mereka tanya ke gue. Dan berhubung gue pikir mereka serius pengen tau maka gue jelasin panjang lebar kata-kata itu. Ternyata permasalahan utamanya adalah, B bilang kata2 itu adalah bahasa daerah sementara A bilang itu adalah Bahasa Indonesia. (Seandainya gue tau kalau mereka lagi berselisih, tentunya suara gue jadi mahal harganya ya? Hehe..)



Dari sinilah bahasan hari ini gue mulai.

Bahasa Indonesia adalah bahasa kompromi sejak awalnya. Seperti yang juga dibilang Tia di komentar posting gue yang lalu. Dulu, sesaat sebelum kemerdekaan, kita butuh satu bahasa pemersatu. Kita butuh satu bahasa yg pret à porter, yang bisa dengan secepat2nya langsung dipakai. Saat itu, bahasa bagi Indonesia lebih ke fungsi, walaupun juga berarti identitas. Gak peduli kata-kata dari bahasa mana (Melayu, Sansekerta, Jawa, Arab, Belanda, Portugis, dll), selama orang2 mengerti maka jadilah.

Tidak heran kalau kemudian temen gue B anggap kata2 di atas adalah bahasa daerah. Sekarang, semua kata itu adalah Bahasa Indonesia, tapi gue gak tau asalnya, bisa jadi dari bahasa daerah. Dan bukan berarti Bahasa Indonesianya B buruk ya, plis deh, dia itu ketua OSIS gitu loh di SMAnya dan gue selalu berpendapat, pelajar2 yg pernah jadi ketua organisasi ini itu pastinya punya kemampuan verbal di atas rata2. (kalimat ini penting, supaya B tidak berkecil hati).

Kata2 semacam nanar, limbung, dan tohok sepertinya cukup sering muncul. Tapi sangkil dan mangkus? Hanya orang2 gak waras aja yang pakai kata2 itu. Gue belajar kata2 itu bila dan hanya bila gue mau UMPTN karena kata2 itu hampir setiap tahun muncul di soal2 Bahasa Indonesia. Tapi sebelum dan sesudahnya, boro2 ya kata2 itu gue pake, gue baca pun gak pernah. Kalau A dan B gak ungkit2 kata2 itu lagi kemarin, pastinya gue udah lupa. Kata-kata itu adalah dalam Bahasa Indonesia dan bener2 ada, bukannya gue mengada-ada. Namun, sekali lagi, hanya orang2 gak waras yang pake, contohnya orang2 yg nyusun soal2 UMPTN (pilih A jika 1 dan 3 benar, pilih B jika 2 dan 4 benar, pilih C jika 1,2, dan 3 benar, pilih D jika hanya 4 benar, dan pilih E jika semua benar).



Dari sinilah permasalahan Bahasa Indonesia gue rumuskan:

1. Terbiasa dan terlalu mudah menyerap kata2 dari bahasa2 lain.
2. Kalaupun ada kata2 asli Bahasa Indonesia, gak ada yang pakai, kata2 itu ada cuma supaya kamus kita tebal.



Metode dan Struktur Pembahasan
Permasalahan di atas akan gue bahas terutama dengan menggunakan metode sok tau gue (except if otherwise mentioned). Tapi sebelumnya, gue akan bahas pertama2 posisi Bahasa Indonesia di dunia. Lalu kemungkinan Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional (menjawab komennya Adella di posting gue yang lalu). Terakhir, pro kontra kata2 serapan dlm bhs Indonesia (sambil menjawab permasalahan).



Posisi Bahasa Indonesia di dunia

Berdasarkan perkiraan seorang peneliti yg dianggap suhu di bidang ini, yaitu Haarmann (2001b), terdapat 6417 bahasa di dunia, di antaranya hanya 273 bahasa yg dipakai oleh masing2 lebih dari satu juta org dan merupakan 85% dari populasi dunia.

Selanjutnya, di antara bahasa-bahasa itu hanya 12 bahasa yg masing2 digunakan oleh lebih dari 100 juta org sebagai bahasa pertama atau kedua mereka. Bahasa Indonesia ada di posisi 9 dari 12 besar tersebut, digunakan oleh 175 juta manusia (data thn 2001). Kedelapan bahasa di urutan di atasnya secara berturut2 adalah: Cina, Inggris, Hindi, Spanyol, Rusia, Arab, Bengali, Portugis. Dan 3 bahasa di urutan setelah Indonesia: Prancis, Jepang, Jerman.

Pertanyaan penting berikutnya: di manakah Bahasa Indonesia digunakan? Tahan nafas sodara2…. Bahasa Indonesia digunakan hanya di Indonesia. (dan Timor Timur kali ya).



Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional?

Dari segi jumlah penutur, Bahasa Indonesia termasuk salah satu dari yg teratas di dunia. Namun seperti yg pernah gue bilang ke dia, penutur yg banyak saja tidak cukup buat satu bahasa utk bertahan di dunia yg keras ini (boro2 jd bhs internasional). Bahasa Indonesia sangat mungkin jd bahasa internasional (atau setidaknya regional) suatu saat, kenapa tidak, terutama jika memperhitungkan kekuatan bahasa kita ini selain jumlah penuturnya yg banyak, yaitu mudah dan indah (wow, berima).

Mudah. Coba kalian bandingkan dengan bahasa2 di urutan di atas Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu luar biasa mudahnya dibandingkan dengan Bahasa Cina (hehe… kontras banget ya gue bikin perbandingan, bodo’ lah, biar langsung mengena). Utk belajar Bahasa Cina, kita butuh seumur hidup (kata gue). Ribuan Zeichen (tanda?) harus dihafal mati utk bisa nulis, itu sebabnya tingkat buta aksara di Cina begitu tingginya. Mau ngomong doang pun kita harus tau nada2nya, sentakan2, dan penekanan2 yg tepat atau artinya bakal melenceng jauh dari apa yg kita mau omongin.

Atau ambillah Bahasa Yunani. Jika gue hampir gila belajar Bahasa Jerman, maka kalau gue ditaruh di Yunani gue bisa gila beneran. Di Bahasa Yunani, kasus tidak hanya nominatif, akusatif, datif, dan genitif, namun tambah lagi satu: vocatif (whatever it means). Voices tidak hanya aktif dan pasif namun juga middle (hä?) Numbers tidak hanya singular dan plural namun juga dual (Bahasa Arab juga demikian).

Indah. Banyak orang bilang Bahasa Prancis indah didengar. Jelas sekali yg bilang ini tidak pernah belajar Bahasa Prancis. Cobalah pelajari satu2 katanya, huhuhuhu.... gak bakalan kepikiran deh sama indahnya (eh, ini sama aja alasan sulit ya). Bahasa Indonesia konon dalam pronounciation sangat mirip dengan Bahasa Itali. Tapi coba pikir baik2, bandingkan cermat2, maka dengerin org baca warta berita dlm Bahasa Indonesia itu rasanya bikin gue terbuai dan sebabkan gue gak dengerin apa omongannya… *ini sih emang gue males dengerin berita*. Pokoknya gue bilang Bahasa Indonesia itu indah (sangat subyektif memang kl ngomongin indah dan tidak indah. Ini masalah selera dan selera tidak bisa diperdebatkan kata nyokap gue).

Nah, Bahasa Indonesia itu banyak penuturnya, mudah, dan indah. Sayangnya, itu semua masih tidak cukup utk menarik orang asing berbondong2 belajar Bahasa Indonesia. Masih kurang satu hal yg terpenting: yakni motivasi. Buat apa belajar Bahasa Indonesia? Seandainya gue adalah pemerintah Vietnam dan pengen mengirim dosen2 gue atau pegawai2 negri gue utk belajar ke luar negeri, mending gue pilih kirim ke India. Selain mereka pakai Bahasa Inggris (sekalian belajar bahasa internasional), India juga mulai unjuk gigi di bidang pendidikan (terutama jurusan Informatik), dan masalah biaya pun kurang lebih sama dengan Indonesia. Atau sekalian ke Malaysia. Tidak akan ada yg mau belajar Bahasa Indonesia untuk alasan pendidikan.

Alasan iptek? Jangan bikin gue ketawa. Bahasa yg digunakan sebagai sarana komunikasi ilmiah (utk publikasi buku, konferensi, kuliah) ditentukan oleh banyak faktor terutama faktor2 politik dan ekonomi. Inilah yg menyebabkan sekali lagi keunggulan Bahasa Inggris. Menurut Ammon (1998), dalam bidang ilmu alam 90,7% publikasi adalah dlm bhs Inggris, diikuti kemudian oleh bhs Russia, Jepang, Prancis, dan Jerman yg masing2 persentasenya sekitar 1,5% (surprise surprise!) Dalam bidang ilmu sosial, 82,5% publikasi yg ada di dunia adalah dlm bhs Inggris, diikuti kemudian oleh bhs Prancis, Jerman, Spanyol, yg masing2 sekitar 4%. Dan di mana posisi Bahasa Indonesia? *Nebaknya pun gue males*.

Alasan prospek masa depan (misal: bidang ekonomi)? Hmm… masih lama sekali ya keliatannya, ini pun kalau Bahasa Indonesia gak keburu tergilas oleh zaman. Gue denger udah mulai ada perusahaan2 yg terapkan aturan utk bicara dlm bhs Inggris di kantornya? Gue denger udah mulai ada sekolah2 swasta utk anak2 Indonesia yg bhs pengantarnya bhs Inggris? Lalu utk apa org asing belajar Bahasa Indonesia jika org Indonesia sendiri berangsur2 sedang meninggalkan bahasa mereka? *gue mulai histeris dan hiperbola*.

Oke, sebelum gue dicap anti bahasa asing, gue perlu bikin pelurusan. Ehem. Belajar bahasa asing itu sangat perlu. Sangat. Perlu. Banyak manfaatnya. Gue sendiri belajar 3 bahasa asing dan nanti suatu saat di Indonesia gue bakal mulai bahasa asing ke-4 gue, yaitu Bahasa Arab (memenuhi tantangan nyokap gue). Minimal satu bahasa asing, generasi muda Indonesia harus bisa. Yang gue permasalahkan kemudian adalah, kalau belajar bahasa asing menyebabkan kita kehilangan “loyalty” (pinjam istilah dari Hoberg, 2004) terhadap bahasa kita sendiri. Baca posting Tia yang ini utk contoh favorit gue mengenai loyalitas thd Bahasa Indonesia.

Dalam waktu dekat memang tidak ada yg bisa kita harapkan utk org asing belajar bhs Indonesia sebagai bhs asing mereka. Indonesia harus membuktikan diri dulu sebagai bangsa yg kuat, misal dlm bidang ekonomi dan pendidikan. Dan sambil menunggu saat itu tiba … minimal yg bisa kita lakukan adalah menjaga bahasa kita sendiri.



Kata-kata Serapan dalam Bahasa Indonesia: Kontra?
Menjelang lulus dulu gue pernah kerja jd editor. Kerjaan gue sehari2 adalah duduk dan mikirin kata2 bhs Indonesia (atau kalimat) yg lbh cocok utk naskah tertentu sebelum diterbitkan. Atau kadang2 kita diskusikan. Kedengerannya emang menyenangkan, tapi cukup frustasi juga. Para editor senior yg gue rasa hafal luar kepala isi KBBI pun dibuat puyeng. Apa yg harus kita cetak misalnya utk kata2 seperti ice cream cone? Apa bhs Indonesia-nya? Belum lagi kl ketemu kata2 jargon. Untuk Psikologi, mereka bilang kiblat mrk di Indonesia adalah UI, jd pertanyaan selalu dikembalikan ke gue, “di kampus kalian sebut ini apa?” Wah wah wah, di kampus banyak sekali kata2 yg tetap kita sebut dlm bhs aslinya. Mungkin ada bhs Indonesianya, tapi gue ragu kl kita semua ngerti.

Akhirnya, penyelesaiannya biasanya adalah membuat serapan kata2 tsb ke dlm bhs Indonesia atau kl lebih terpaksa lagi tetap mencetaknya dlm bhs Inggris namun cetak miring. Hhhh…

Gue bingung apakah gue harus pro atau kontra mengenai kata-kata serapan dlm bhs Indonesia. Awalnya tentunya gue bersikap kontra. Hari ini, seperti yg dibilang Bama dan Herry di sini, bertebaran kata2 serapan terutama dlm bhs Inggris. Ini adalah konsekuensi logis yg merupakan gabungan dari globalisasi, canggihnya teknologi komunikasi, sekaligus membanjirnya penemuan2 dalam peradaban manusia dewasa ini yg hampir semuanya berasal dari negara2 berbahasa Inggris. Kalaupun ada penemuan dari negara bukan berbahasa Inggris, maka agar penemuan itu „diakui“, harus dikomunikasikan dalam bhs Inggris. Lalu kata2 itu diekspor ke seluruh penjuru dunia.

Jika gue kontra, maka pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana meminimalisasi jumlah kata2 yg berasal dari bahasa-bahasa asing di Bahasa Indonesia? (atau) Bagaimana melindungi Bahasa Indonesia dari serangan bahasa-bahasa asing? Dan bicara mengenai perlindungan bahasa, tidak afdhol kalo blm menyebut2 kebijakan pemerintah Prancis mengenai bahasa mereka. Prancis adalah contoh klasik jika bicara ideologi, perencanaan, dan manajemen bahasa. Prancis punya serangkaian kebijakan berbahasa yg didukung serangkaian badan pemerintah dalam menjalankannya (yang paling penting: French Academy). Dalam menghadapi kata2 asing, Prancis selalu mengeluarkan kata2 Prancis utk setiap kata bhs asing yg masuk Prancis. Jangan harap kita bisa bikin iklan di Prancis dengan menggunakan kata2 computer atau software (misal).

Memang efektivitas kebijakan2 Prancis tsb tidak bisa dikatakan 100% dan lebih dari itu, tidak bisa demikian saja disalin mentah2 oleh negara2 lain, karena secara sejarah saja, kebijakan berbahasa di Prancis sudah mulai digodok sejak abad 17 (dari satu literatur malah disebutkan sejak abad 16: Braselmann, 2004). Namun demikian, berkaitan dengan bhs Indonesia, inilah yg masih kurang dari bahasa kita: satu Komisi khusus yg terdiri dari sepasukan org yg duduk selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu utk memikirkan kata2 Indonesia utk setiap kata yg masuk ke Indonesia (ini langkah pertama dari kondisi idealnya).

Dulu pernah ada Komisi Bahasa Indonesia yg awalnya didirikan oleh Jepang utk menghapuskan Bahasa Belanda di Indonesia dan kemudian berlanjut hingga modernisasi Bahasa Indonesia yg hasilnya antara lain adalah peluncuran kamus kata2 modern Bahasa Indonesia sekitar thn 70-an. (gue gak tau bgmn kelanjutannya).

Sekarang ada yg namanya Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (PPPB) dari Depdiknas. Kegiatan mereka sejauh ini (yg gue liat2 dari web site-nya) memikirkan pedoman membuat kata serapan (bukannya membuat kata2 bhs Indonesia sekalian!), penyuluhan2 bhs yg sangat gue ragukan keefektivitasannya, kerjasama entah apa sama dlm negeri dan luar negeri. Tadinya mau gue liat2 lagi web nya tapi lagi error (coba aja nanti beberapa hari lagi). Kalaupun ada yg bikin2 kata2 baru (gue gak tau ini tugas dan wewenang siapa), gue rasa masih kurang cepat, kurang cepat.

Sekalinya ada kata2 baru, misalnya sangkil dan mangkus (hehe), tertinggal hanya sebagai penghias kamus kita. Karena jurang yg lebar antara pembuatan kata2 baru dengan penyebarluasannya ke masyarakat. Inilah langkah kedua dari kondisi ideal: meneruskan kata2 baru agar dipelajari. Caranya: daftar kata tsb diteruskan ke institusi2 pendidikan, institusi2 negara, para editor di media massa, dll yg berkepentingan dgn kata2 baru tsb. Jadi gak cuma langsung ditaruh aja di kamus, siapa juga yg bakalan baca.

Sementara dipelajari tentu juga harus sambil dipakai (langkah ideal ketiga). Televisi adalah salah satu media penyebar yg sangat efektif. Mulailah setapak2, misalnya semua iklan harus dalam bhs Indonesia, atau minimal di-dubbing ke dlm bhs Indonesia. Yang gue liat kemarin pas gue pulang ke Jakarta, iklan2 di TV kok banyak bgt yg impor ya? Begitu banyak praktisi advertisement dan marketing kita yg kreatif2, knp gak bikin iklan sendiri? Mungkin pemerintah harus turun tangan, bikin kebijakan agar perusahaan2 asing di Indonesia hanya boleh beriklan dalam bhs Indonesia.

Kendala dari kondisi ideal di atas adalah tentu saja masalah biaya. Butuh triliunan per tahun kali ya utk hal seperti ini (belum lagi jumlah yg dikorupsi). Dan sangat tidak manusiawi rasanya, bicara masalah ini sementara di depan mata kita masih ada yg menderita busung lapar, masih ada yg ngangkut mayat anaknya naik kereta api, masih ada bencana2 alam yg hancurkan hidup jutaan manusia Indonesia.



Kata-kata Serapan dalam Bahasa Indonesia: Pro?
Gue pernah baca textbooks Psikologi terjemahan dua kali. Mungkin dua2nya termasuk buku2 terjemahan yg ideal di mata para ahli bhs Indonesia. Sangat jarang atau bahkan tidak ada kata2 asli bhs Inggris yg dicetak miring. Sangat jarang kata2 serapan, selama ada kata dlm bhs Indonesia itulah yg dipakai.

Namun apa kesan gue? Mau gue banting rasanya buku2 itu. Penuh dengan kata2 alien. Rupanya penerbit juga ragu apakah pembaca bisa ngerti makanya di beberapa kata terjemahan tetap disertakan kata asli di dalam kurung. Namun ada juga kata2 yg harus gue tebak2 sendiri, misalnya terjemahan utk kata variabel. Ternyata ada loh bhs Indonesianya, yaitu teba apaaa gitu, gue lupa. Kalau sudah begini, gue cuma menyumpah serapah aja. Mbok ya sekalian aja tulis serapannya langsung, mana sih yg paling penting, punya bahasa sendiri tapi gak ada yg ngerti atau punya kata2 serapan semua tapi dimengerti? *buah simalakama*

Gue pro kata2 serapan karena murah dan mudah (wow, berima lagi). Gue gitu loh, yg tergila2 sama yg praktis2 aja. Dan seperti yg gue bahas di bagian sebelumnya mengenai kendala kita yg cuma satu namun sangat telak yaitu masalah biaya membuat gue pro bersyarat terhadap kata2 serapan (syaratnya: mengikuti pedoman2 penyerapan yg dikeluarkan PPPB). Dan lagi toh memang dalam sejarah kita selalu menyerap kata2 asing. Mungkin di situlah letak identitas bahasa kita: bahasa penyerap, hehe... Lalu, alasan lain, seperti Goethe pernah bilang,

The power of a language lies not in its rejection but in its assimilation of what is foreign.


Kenapa kata2 bhs asing kita lihat begitu negatifnya dan dirasakan sebagai ancaman? Kenapa tidak dilihat sebagai pengayaan? Toh dlm Bahasa Indonesia belum ada penelitian ttg proporsi kata2 serapan modern thd Bahasa Indonesia secara keseluruhan. Bisa jadi semua kekhawatiran kita selama ini cuma sesuatu yg berlebihan dan tidak perlu?


Kesimpulan
?





PS: untuk arti kata sangkil dan mangkus silahkan dibuat PR.

Btw, Bay, sori ya tapi gue mesti bener2 bilang ini: gue belum puas bahas masalah bahasa, hehe... gue blm bahas misalnya knp penting bagi satu bhs utk tersebar (knp byk bahasa berebutan pengaruh di dunia), bahasa dan identitas bangsa, hak asasi dalam berbahasa yg diatur di EU (termasuk kebijakan anti diskriminasi baru di EU), dll. Jadi, ini belum selesai, tapi utk blog gue cukuplah... Sepertinya kemungkinan besar inilah topik tesis gue nanti, masalah bahasa, terutama Bahasa Indonesia.

Creative Commons License