about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Wednesday, April 13, 2005

Ordnung Muss Sein!


Dalam salah satu kunjungannya ke Jerman sekitar 15 thn yg lalu, nyokap gue sangat terkesan dengan sistem pengaturan sampah di sini (sampah kertas, sampah dapur, sampah sampah gelas, dll). Terus nyokap gue nanya, apakah sekarang masih begitu? (dengan tampang mupeng). Padahal nyokap gue tuh tinggal di Jakarta gitu loo, Jakarta di mana terdapat tempat sampah terbesar di seluruh dunia, kekekeke... iyalah, elo tinggal lempar aja sampah loe, dan di mana sampah itu mendarat, itulah tempat sampah di Jakarta... emang nyokap gue gak bersyukur ya tinggal di Jakarta, ckckck...

Image hosted by Photobucket.com



Apakah pengaturan sampah di Jerman masih begitu? Wow jangan tanya!!! Seenggaknya gue bisa nyebutin 8 kategorisasi sampah di sini (Restmüll, Sperrmüll, Bioabfall, Leichtverpackungen, Altpapier, Altglas, Schadstoffe, Baustellenabfälle). Dan sampah gelas bisa dibagi2 lagi: gelas putih, gelas coklat, gelas apa lagi satu lagi ya? ijo? Belum lagi aturan kapan bisa buang gelas, ada jam2 tertentunya. Yang jelas elo gak boleh buang gelas pas malem2 atau week end waktunya orang2 istirahat karena berdasarkan pengalaman pribadi, buang gelas itu ributnya minta ampun, kayak org ngelempar2 piring gitu deh (pengalaman yang membahagiakan bagi gue). Di kampung2 kecil yang dikuasai nenek2 seperti Fulda, aturan2 ini lebih terasa. Jadi daripada kena omel atau daripada dilaporin ke polisi, gue seringkali harus menahan diri gila2an jika tengah malam ada dorongan utk buang gelas.

Kutipan perbincangan antara Amel Dewasa dan Amel Kekanakan:

Jangan Mel, jangan sekarang, plis plis plis... tunggu sampai besok...
AAAARRRGGGHHHH... gak bisa gak bisa gak bisa, gue udah kepengen banget niy!!
Tarik napas Mel, dalam dalam, sepuluh kali, sabar ya...

Oke, gak lama kan? Gak pake lama ya!


2 jam kemudian:

Udah pagi belum? Udah pagi belum? Udah boleh buang gelas belum?
TIDUR GIH! Masih 6 jam lagi baru boleh.


6 jam kemudian:

Ayo buang gelas ayo buang gelas *jingkrak2 kegirangan*
Aduh sori Mel, gue baru inget, ini week end, yahhh kita harus nunggu 2 hari lagi...
GRRRRRHHH


Nah, sekarang kalian mulai bertanya2, apa2an nih Mel? Dan gue bakal jawab, inilah salah satu contoh kompulsivitas orang2 Jerman. Bukan, bukan tentang kebersihan atau issu2 lingkungan, tapi tentang obsesi orang2 Jerman terhadap keteraturan.

Dari suatu statistik tentang Stereotipe Orang2 Jerman di Mata Orang Asing, salah satu yang ada di peringkat teratas adalah teratur, selain kaku dan penjelajah dunia (budaya Urlaub ke luar negeri).

Sudah merupakan praktek yang umum di setiap kelas Landeskündliche Konversation, di kelas2 bahasa Jerman buat orang asing, untuk membahas mentalitas Jerman yang satu ini. Betapa si X (orang asing yang malang) pada tengah malam ingin menyeberang jalan, kebetulan bersamanya adalah orang Jerman, si orang Jerman akan nunggu sampai lampu buat pejalan kaki hijau, walaupun gak ada tanda2 keberadaan satu mobil pun di sana.


Image hosted by Photobucket.com
di Jerman ini artinya:
boleh jalan - tidak boleh jalan
terlepas dari ada mobil lain atau enggak
terlepas dari jam berapa saat itu


Ada lagi satu cerita yang bener2 susah gue ngerti maksudnya pas pertama kali gue denger. Jadi ada seorang bapak2 tua yang tinggal di pinggir jalan tol. Pada suatu hari dia mengamati bahwa ada lubang di jalan tol itu. Sangat berbahaya bagi para pemakai jalan. Berhubung dia adalah pensiunan pengaspal jalan, dan dia punya sedikit sisa aspal di rumahnya, maka di-aspal lah olehnya jalan yang lubang itu. Tapi ternyata itu gak boleh. Ada peraturan yang bilang bahwa hanya pemerintah daerah yang boleh mengutak-atik sarana umum, dan bapak itu harus bayar denda akibat kelakuannya itu.

Apakah kalian ngerti? Ataukah kalian sebingung gue ketika pertama kali denger ini? Mari gue jelaskan logika di balik ini melalui suatu perumpamaan. Bayangkan di kampus loe ada lampu yang gak berfungsi gara2 ada gangguan kabel atau apa, lalu ada orang2 yang merasa ahli di bidang listrik dan ngutak ngatik semuanya sampai akhirnya malah jadi rusak gak karu2an. Nah, untuk menghindari itulah, makanya, tidak ada yang boleh menyentuh sarana umum kecuali yang berkepentingan.

Cara orang menghayati peraturan, di Jerman, adalah sudah lebih ke masalah prevensi. "supaya segalanya teratur supaya tidak begini tidak begitu". Sementara cara berpikir gue masih ... masih belum sampai sana lah yang jelas. Bagi gue yang penting niat bapak itu baik, ingin menolong. Bagi gue yang penting gak ada mobil, jd ngapain melototin lampu kalau mobil aja gak keliatan...


Image hosted by Photobucket.com


Nah, gue ajak kalian agak mundur sedikit, untuk mendengarkan apa kata para pemikir Jerman sendiri tentang aturan?

Ordnung ist nicht alles,
aber ohne Ordnung ist alles nichts!

(Aturan bukan segala2nya,
namun tanpa aturan semua gak ada artinya)

-Schopenhauer, filsuf Jerman muridnya Kant, sebenernya awalnya dia bilang ini dalam kaitannya dengan bidang kesehatan tapi kemudian diterapkan meluas di segala bidang-

Ordnung ist das halbe Leben
(Aturan adalah separuh hidup)
-sekarang antara lain dipakai di iklan produk Ordner di Jerman, kayaknya sih ini ada akar filosofisnya juga tapi gue gak tau siapa yang memunculkannya pertama kali, coba di-google sendiri kalau kalian begitu penasarannya-


Bahkan tradisi Psikologi di Jerman pun gak bisa jauh2 dari segalanya yang harus serba teratur dan terstruktur. Sekitar satu abad yang lalu, sebagai reaksi atas aliran Psikoanalisa nya Sigmund Freud di Wina yang membahas alam sadar dan alam tak sadar dan semacamnya dengan menggunakan metode analisa mimpi dan hipnotis dan semacamnya, ilmuwan2 di Jerman bilang, "Psikologi seharusnya hanya bicara tentang perilaku2 yang bisa diamati, bisa diukur dan dihitung, yang abstrak2 itu tidak ilmiah!" Lalu mulailah tradisi behaviorisme dalam Psikologi, yang mencoba mengkuantifikasikan Psikologi dengan eksperimen2 yang ketat terkendali, variabel2 yang terdefinisi jelas, blablabla. Laboratorium Psikologi pertama di dunia pun didirikan di Leipzig tahun 1879 (pertanyaan standar di ujian anak2 Psiko semester satu).

Nah, dengan filosofi2 demikian di kepala mereka, maka kerap kita dengar ungkapan Jerman ini: "Ordnung Muss Sein!" yang diterjemahkan oleh Toni sebagai "Tentu Saja Semuanya Harus Teratur!" Semua di sini ada aturannya (kayak lagunya Opi aja ya). Sampai2 gue bertanya2 bgmn mrk bisa tau SEMUA peraturan yang ada.

Salah satu temen sekelas gue di Humboldt dulu, cewek Italy lupa gue namanya siapa, dia belajar filsafat. Dia bilang, orang2 Jerman bikin begitu banyak peraturan dalam hidup mereka, karena mereka pada dasarnya adalah orang2 yang sangat tidak teratur. (gue sampe bertanya2 gini, siapa ya yang layak gue kasih Piala Juara Ngomong-Yang-Bikin-Bingung? anak2 filsafat atau anak2 hukum?) Ya, jd maksud temen gue itu, orang2 yang sangat tidak teratur tentunya butuh banyak peraturan daripada orang2 yang teratur. Gitu deh... sama seperti "hanya orang2 kotor yang mandi, kalau kita bersih gak perlu mandi". Atau "hanya orang2 bego yang belajar, kalau kita pinter ya gak usah belajar". (pendapat2 adik gue, R)

Hmmm... kayaknya dia bener deh...

Coba diinget2 lagi, terutama bagi kalian yang pernah tinggal sama orang Jerman, atau minimal pernah begitu intensif kontak sama orang Jerman. Coba diinget2 lagi apakah mereka temen2 Jerman loe itu termasuk orang2 yang teratur? Mayoritas dari orang2 Jerman yang gue kenal, ajaib!, adalah orang2 yang sangat berantakan dan gak ada teratur2nya sama sekali. Well, tentu selalu ada pengecualian. misalnya temen serumah gue Matthias, dia itu teratur seperti jam. Tapi tolong dukung gue, yang lain berantakan banget kan?

Dalam forum diskusi Ilumnia mengenai Ist Ordnung das halbe Leben? (Ini adalah pendapat2 orang Jerman tentang keteraturan, yang tentu saja intinya adalah "teratur? apa tuh?" kan semua ini udah gue pilih2, hanya pendapat2 yang mendukung gue aja yang gue masukin ke sini, kekekekeke):

Loco:
ordnung....? kann man das essen? :???:

Vivi:
Ich persönlich habe eine geordnete Unordnung. Gott wie ich diesen satz liebe. Ich finde alles was ich suche wenn ich an meiner Unordnung festhalte. aber wehe ich räum mal auf. dann finde ich gar ncihts mehr. ich kann mir einfach nicht merken wo ich es hingetan habe.

OneOfLilim:
Ordnung? *sich im Zimmer umblick und den Teppich nicht mehr sieht*
Nee nich wirklich ^^ Mein Zimmer ist so chaotisch wie ich selbst.


Hal terakhir yang menarik minat gue adalah betapa gue menangkap kesan bahwa orang2 Jerman dari generasi gue malu dengan stereotipe bahwa mereka itu begitu teratur atau taat aturan. Setiap kali ada yang mengungkit2 ttg keteraturan mereka, mereka bakal bilang "ah, enggak, gue sih gak begitu, kalau emang gak ada mobil ya gue nyebrang aja, ngapain juga nunggu lampu."

Weleh weleh... orang2 yang bilang begini, jelas mereka gak pernah ke Jakarta ya? Gak pernah ngerasain depresinya ngeliat segala sesuatu berantakan gak ada aturan. Gak tau betapa malunya berasal dari bangsa yang bertingkah laku tanpa aturan. Seharusnya mereka bangga bisa punya disiplin yang seperti itu.



maaf ya, di tulisan gue kali ini istilah2nya agak rancu dan tumpang tindih dan ketuker2. seharusnya dari awal gue membeda2kan antara aturan, peraturan, dan keteraturan. antara aturan hukum dan aturan tak tertulis. masalahnya sekarang gue udah selesai nulis dan terlalu males untuk ngedit, jd tugas kalian adalah memilih sendiri mana yang tepat, hehehe... *kabur ah*

Creative Commons License

3 Comments:

Post a Comment

<< Home