about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Thursday, February 09, 2006

Malam terakhir di Fulda


Image hosting by Photobucket

Mid pleasures and palaces though we may roam,
Be it ever so humble there's no place like home!

John Howard Payne (1791-1852)

Creative Commons License

Friday, January 27, 2006

meranggas sayup sayup


Image hosting by Photobucket
Photo by Lisa Gough


galagasi pedar,
di tapal musim panas.
menyaksikan dedaunan meranggas,
ia rentas lalu melangkah sayup.

dan aku.
merindukanmu.
lebih dari sebelumnya.

dan aku.
mengharapkanmu.
lebih dari sebelumnya.







Thanks ya say, buat kata2 barunya.
Ini puisi dgn waktu bikin yg paling singkat sepanjang sejarah blog gue, hehe..

Creative Commons License

Saturday, January 21, 2006

seketika sunyi senyap


Image hosting by Photobucket


"Woman Lying Down Arching"
A Painting by Arslan.



rebah kepalaku di pangkuanmu,
rasakan hangat darahku mengalir
dari luka yang menganga lebar,
aku berkata dengan tatapanku.




aku memilih.
habiskan nafas-nafas terakhir
menerjemahkan liar gerak matamu.
sementara memintamu akhiri penderitaanku
tak kulakukan.

aku memilih.
tidak sedetik memejamkan mata
hitung bintang-bintang di matamu.
sementara menghitung detik-detik terakhirku
tak kuingat.

aku memilih.
mengeja sakit tanpa mampu melafalkannya
sakit sebab tak sempat melihatmu tersenyum.
sementara sakit luka tusukanmu yang mematikan
tak kuhiraukan.



seketika sunyi di sekelilingku,
rasakan cengkeramanmu menguat
pada lenganku yang melemah,
aku menutup mata.







Ini fanfic. (klik).

Creative Commons License

Sunday, January 15, 2006

W.A.I.T.I.N.G.


Can't we cook the hamburgers yet?

The coals aren't hot enough.

But I'm hungry! I want to eat NOW!


Well, you'll just have to wait.

You know, Calvin, sometimes the anticipation of something is more fun than the thing itself once you get it.

Here we are, it's a beautiful evening. It's nice to just sit here and look at the trees while we wait for the coals to get hot, don't you think?

Dinner will be over soon, and afterward we'll be distracted with other things to do. But now we have a few minutes to ourselves to enjoy the evening.

These summer days go by so quickly. It's good that every now and then we have to wait for something.

...

...

So should I go to McDonald's then, or what?

Yeah, I know. You think you're going to be six all your life.




Waterson, Bill: The Authoritative Calvin and Hobbes. A Calvin and Hobbes Treasury. London (Warner Books), 6th ed., 2000, p. 45.

Creative Commons License

Monday, January 02, 2006

New Year's Resolution



In the year 2006 I resolve to:

Procrastinate more.



Get your resolution here



Creative Commons License

Friday, December 30, 2005

Yahoo! Messenger: Don't ~x( Be <:-P


Image hosted by Photobucket.com


Tanya: Berapa kali gue berantem sama orang lain di Yahoo! Messenger?
Jawab: Seribu juta kali.

**********




Prof Nothdurft adalah salah satu dosen favorit gue di sini, sayangnya gue cuma ikut kelas dia satu semester aja. Latar belakangnya Psikologi dan di FH dia ngajar (antara lain) Teori2 Komunikasi untuk ICEUS semester 1. Pada hari pertama gue hadir di kelasnya, dia bilang bidangnya adalah "segala hal yang terjadi antara dua orang manusia mulai dari saat mereka bertatapan mata selama lebih dari 3 detik hingga seterusnya."

Di kelasnya dia bicara terutama mengenai peliknya komunikasi. Oh, jangankan komunikasi antarbudaya (judul program studi gue), komunikasi antar suami istri saja sebegitu rumitnya (atau justru malah rumit ya? hehe). Dia banyak kasih contoh kisah nyata dirinya dan istrinya.

Nah. Jangan biarkan gue ngelantur. Gue gak akan tulis di sini teori2 komunikasi, untuk itu gue akan serahkan pada para ahlinya saja, Mbak Mama dan Ragil, hehe. Di sini gue cuma akan bahas sedikit konsep dasar komunikasi, itupun hanya untuk membandingkannya dengan komunikasi lewat Yahoo! Messenger (selanjutnya disingkat YM).

Ngobrol sama orang lain secara face-to-face tidak sama dengan membaca buku (yang bilang sama siapa ya Mel?) Kalau lagi baca buku, lalu ada hal2 yg kita gak ngerti, kita bisa balik lagi ke bagian di mana kita gak ngerti trus baca lagi bagian itu, sekali lagi, dua kali, sejuta kali, sampai kita ngerti. Kalau ngobrol sama org, semua kalimat yg dia ucapkan, akan hilang lalu bersama angin (gone with the wind, novel favorit gue) pada detik kalimat itu selesai diucapkan.

Hal ini saja sudah menimbulkan luar biasa banyaknya implikasi dalam komunikasi face-to-face. Karena kata2 kita akan hilang bahkan sebelum kita sempat menutup mulut, maka kita akan berusaha agar org dgn siapa kita bicara mengerti apa yg kita katakan, pada saat itu juga. Bagaimana caranya agar semua kata2 gue langsung dia simpan di kepalanya. Karena kalau tidak, maka tidak ada gunanya gue ngomong kan. Ini kita lakukan melalui berbagai cara. Misalnya, mengulang kembali kalimat2 yg kurang jelas, menegaskan maksud dengan menggunakan aspek2 nonverbal dari komunikasi (misal: gerakan tangan, gerakan kepala, pandangan mata, dll) berikut aspek2 paraverbal (misal: intonasi, irama suara, volume, dll). Cara lain, misalnya, adalah dengan memperhatikan bahasa tubuh lawan bicara kita, untuk yakin bahwa dia ngerti.

Membaca buku adalah komunikasi satu arah. Penulis ingin mengatakan blablabla kepada para pembacanya. Yang penting adalah mengekspresikan apa yg ada di kepala penulis, apa yg ada di kepala pembaca ketika membacanya adalah hal lain lagi. Sementara dalam obrolan antara dua org, prosesnya adalah interaktif. Keduanya sama2 memberi sumbangan terhadap berlangsungnya obrolan. Entah obrolan itu berhasil atau tidak, yang penting keduanya punya peran.

Lalu teknologi komunikasi berkembang. Pada suatu titik dalam sejarah, kita mulai bisa bicara dengan orang yang tidak berada pada tempat yg sama dengan kita, lewat telepon. Yang terjadi juga interaktif. Kalau ada yg kita gak ngerti kita tetap bisa minta tolong diulang, kita tetap bisa tanya. Tapi tetap, telepon membatasi kita untuk hanya berkomunikasi secara verbal dan paraverbal. Kemudian pada satu titik lain dalam sejarah, muncul YM (salah satu contoh komunikasi lewat IM, berhubung gue pake YM jadi contohnya YM aja ya). Di YM, komunikasi menjadi jauh lebih murah, mudah, meluas dari segi cakupan, namun sangat jauh menyempit dari segi kita hanya bertukar kata2. Titik. Gak ada lagi baca gesture atau menebak2 emosi lawan bicara lewat nada suara, dll, hal-hal yang sangat besar sumbangannya untuk menghindari kesalahpahaman.

Memang ada emoticons. Setelah sering chatting sama beberapa orang, gue tau emoticon favoritnya Ragil adalah ini :P sementara Adella dan Bama seneng sekali pakai ini :)) kalau Shinta =)) Iqbal dan Herry :D Bagi yg sering chatting sama gue, ;;) adalah favorit gue. Lalu dia suka sekali pakai :-?? dan gue tau kalau dia ngobrol sama gue tanpa satu pun emoticons itu artinya dia lagi sangat serius. Mbak Mama hobbynya pakai :-) dan sebagainya dan sebagainya. Tapi apakah itu cukup, apalagi bahkan emoticons pun kadang bikin gue salah paham. Apakah gue yg geblek ya, kadang gue masih harus nanya, emoticon tertentu yg dipakai seseorang itu artinya apa. Misalnya, sampai sekarang gue masih gak yakin kalo gue ngerti ini artinya apa O:-) atau ini :-B atau ini =;

Di satu sisi, YM bagus juga karena membuat kita fokus. (Walaupun bagi org2 Leo model gue dan Ragil gak ngaruh juga ya Gil. YM sih YM, tetep aja kita ngelantur, yang ditanya apa, jawabnya apa). YM diharapkan membuat kita fokus, kita hanya harus berusaha mengerti kata2 yg kita baca di layar. Sebaliknya, kita juga hanya harus pikirkan kata2 yg kita ketik. Namun pada saat yang bersamaan, pembatasan ini juga amat sangat bahaya. Karena komunikasi bukan hanya sekedar tukar menukar atau berbagi informasi antara dua orang.

Komunikasi didefinisikan oleh banyak kamus kurang lebih seperti contoh tipikal di bawah ini,

The exchange of thoughts, messages, or information, as by speech, signals, writing, or behavior
-The American Heritage Dictionary-


Exchange of ideas. Dalam versi-versi lain disebut sebagai sharing atau submission of ideas. Kata-kata tersebut (exchange, sharing, submission) mengisyaratkan bahwa ideas adalah sesuatu yg bisa dibagi antara dua org tanpa berubah bentuk. Seperti kita berbagi kue, atau kertas, atau berbagi rumah.

Ide bisa kita klonning dan kita pindah ke kepala orang lain tanpa berubah bentuk, gue setuju. Bisa jadi. Tapi dalam banyak kasus, yang terjadi adalah, penerima pesan akan mengolah pesan tersebut dengan menggunakan apa yg ada di kepalanya sendiri, yang terdiri dari pengetahuan2 dia sejauh ini dan atau pengalaman2 hidupnya, sehingga pada gilirannya dia memberi arti tidak sama seperti yang kita harapkan dia akan mengerti. Ini amat sangat normal.

Mari diterapkan pada kasus YM. Di YM kita menggunakan kata2 yg kita pilih dari kosakata kita yg kita mengerti menurut definisi kata tersebut yg kita adopsi. (Gue merinding baca kalimat gue sendiri). Pesan singkat saja bisa menimbulkan salah paham, bayangkan jika kita bertukar ide yang jauh lebih abstrak.

Untuk menambah pening kepala gue. YM itu harus gue golongkan apa? Komunikasi langsung juga bukan, dari segi kita hanya bertukar kata-kata, titik. Komunikasi sehari2 kita kan jauh lebih kaya dari itu. Dibilang komunikasi tertulis juga enggak, karena komunikasi YM itu karakteristiknya adalah interaktif sekaligus singkat. Maksud gue, bukan komunikasi tertulis seperti kita imel2an. Di YM, A tanya B jawab. A ngomong B menanggapi, dan seterusnya. Kadang, kita belum sempat bangun konteks yang cukup mengenai topik, kita langsung ngobrol, dengan persepsi yg tidak sama. Lalu saling menebak2, apakah dia sudah gila? Kenapa dia ngomong begitu? Apakah dia lagi bad mood atau apa, kenapa dia kasar sekali? Halah. Yang bad mood itu siapa, yang kasar itu siapa.

Hmm.. apakah gue hiperbola ya? Apakah gue lagi masuk siklus histeris gue?

**********



Gue inget satu line dalam buku favorit gue, The Little Prince (Antoine de Saint-Exupéry) dan akan gue tiru di sini sebagai penutup.

Aku bukan orang yang biasa memberi peringatan bagi orang lain, namun resiko salah paham di YM sebegitu besarnya sehingga aku akan melanggar kebiasaanku sendiri dengan berkata serius sambil mengacungkan jari pada kalian, "hati-hati akan bahaya YM!"

:D




Darl, this is the reason why...



PS: Kemungkinan gue bakal nulis paper ttg ini, jadi sekalian gue minta tolong, bagi yg punya arsip chatting sama foreigner gue minta tolong dikirimin ke gue lewat imel, bisa? (Bahasa Indonesia boleh, auf Deutsch boleh en français boleh, tapi lebih diharapkan in english, hehe.. thx sebelumnya). Gue butuh kira2 akhir Januari atau awal Februari. Oh, btw, arsip dalam bentuk Notepad ya please, supaya semua emoticons-nya juga terekam. Terima kasih, terima kasih sebelumnya.




Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Creative Commons License

Saturday, December 24, 2005

Novel-novel Paling Mengecewakan yang Ada di Rak Buku Gue


Hmm.. udah lama gak nulis ulasan buku. Tadi gue udah nulis separuh jalan ttg Cala Ibi, tapi tiba2 males :D dan berhubung gue sangat memanjakan mood gue, maka gue banting setir bikin judul baru lagi.

Tolong perhatikan judul gue. Yang mau gue bahas di sini adalah novel-novel yang ada di rak buku gue, jadi ini bukan "worst books of the year" atau "worst books ever published". Jelas bukan, karena setiap gue beli buku tentu gue berharap banyak sama buku itu. Jadi gue juga gak bakal beli buku yg jelas2 tidak menarik minat gue at the first place.

Buku-buku ini kalo gak salah masih ada di kamar gue di Jakarta, jadi bagi siapapun yg berminat baca, gak usah beli, gue kasih aja nanti kalo gue udah balik. Kondisi masih bagus, bahkan baru gue baca beberapa halaman pertama, hehe..



Image hosted by Photobucket.com

Kerudung Merah Kirmizi, Remy Sylado
Ini agak aneh. Remy Sylado, beberapa kali menulis buku dengan berbagai nama samaran, sebenernya adalah salah satu sastrawan (termasuk novelis dan penyair) Indonesia favorit gue. Novel2nya berlatar belakang sejarah Indonesia, dan banyak di antaranya yang jadi bestseller. Salah satunya bahkan adalah buku favorit gue sepanjang masa, Ca Bau Kan (pernah di-filmkan beberapa tahun yang lalu).

Tapi mengapa? oh mengapa? Seseorang yang bisa menulis buku sebagus itu, juga bisa menulis buku sejelek itu? Huhuw... Apakah Anda sedang bad hair day Pak? *Neng Sarah mode on* atau Anda ini sebenernya berkepribadian ganda? Hhhhh....

Kerudung Merah Kirmizi, berlatar Indonesia menjelang kemerdekaan (atau malah sesaat setelah kemerdekaan ya? see, gue sampe gak inget lagi settingnya). Novel ini bicara ttg perjuangan kemerdekaan dan lain-lain yang semuanya itu menjadi samar gara2 kisah cinta yang mengerikan antara dua tokoh utamanya.

Jika gue mau berbaik sangka sedikit, mungkin Remy Sylado berlaku jujur di sana. Begitulah kisah cinta pada saat itu, ditambah lagi dua tokoh utama kita itu sama2 sudah berusia separuh baya, jadi ... yah... dangdut dan gombalnya luar biasa. Bayangin pasangan-pasangan jaman dulu, apalagi seusia itu, bicara pada satu sama lain. Nah. Kalian punya bayangannya. Se-horror itu memang.



Image hosted by Photobucket.com

Lelaki Terindah, Andrei Aksana
Ini adalah pengalaman pertama gue membaca karya Andrei Aksana, dan gue ... trauma. Andrei Aksana punya darah pujangga-pujangga legendaris dalam dirinya (Sanoesi Pane, Armijn Pane, Nina Pane) dan di antara sederet novelnya yang best sellers itu, novel ini adalah masterpiecenya. Coba katakan, bagaimana gue bisa menahan godaan untuk tidak membeli buku ini?

Gue cuma tahan baca beberapa halaman pertama.

Novel ini bercerita ttg kisah kasih antara dua orang pria. Kisah gay Indonesia di mana para pelaku sangat dissonants (gue gak menemukan kata yg cocok untuk: merasa sangat gamang karena ketidakcocokan antara 'apa yg mereka pikir baik' dengan 'apa yang mereka lakukan pada kenyataannya'). Sebenernya, kalau mau difokuskan ke sisi "konflik individu", mungkin bisa mendingan ya. Entahlah.

Satu lagi yang sangat mengganggu gue sejak awal, adalah normatifnya novel ini. Sejak prolog sudah ditekankan "penilaian negatif masyarakat terhadap kaum gay". Ini novel atau iklan layanan masyarakat? Bukan selera gue.

Sejahat-jahatnya gue, mari kita bahas sisi positif dari buku ini. Buku ini adalah salah satu dari sedikit, dan makin lama makin sedikit, buku-buku karya penulis muda Indonesia yang mencoba konsisten menggunakan Bahasa Indonesia. Tentu ada satu dua kata asing yg dicetak miring, tapi menurut gue itu sangat tidak terhindarkan, karena di beberapa bagian ceritanya berlatar belakang Bangkok, dan kalau gak salah ada yg di Amsterdam juga. Berapa banyak sih, penulis muda Indonesia saat ini yang menulis dalam Bahasa Indonesia untuk pembaca berbahasa Indonesia, diterbitkan di Indonesia, tanpa menyelip2kan kalimat2 sehari2 berbahasa Inggris?

Dan harus disebut juga di sini, usaha Andrei Aksana mempelopori gaya baru penulisan buku di mana dia juga bikin soundtrack novelnya, dibikin videoklip, dan dinyanyikan oleh dirinya sendiri. Jadi, satu paket dgn buku tersebut, dia juga sertakan CD berisi vidklip. (PS: Belum gue tonton CD itu, jd gue belum bisa komentar).

Oya, mas Andrei, makasih karena sudah masang gambar itu sebagai cover *wink*



Garis Tepi Lesbian, Herlinatien
(sori gue gak nemu cover buku ini, padahal covernya cukup bagus)
Juga tentang kaum homoseksual, novel ini bercerita ttg sepasang lesbian. Jika di buku Andrei Aksana, stigma2 negatif dari masyarakat sangat jelas, maka di sini sama sekali tidak dibahas, atau mungkin gue tidak cukup sabar untuk terus membaca sampai ketemu. Bahkan gue bingung, novel ini mau membahas apa. Dari A sampai Z isinya adalah puja puji seorang lesbian terhadap kekasihnya.

Gue baca buku ini bertahun2 yg lalu tapi gue masih inget komentar nyokap gue waktu itu, "ceritanya apa sih ini buku?" padahal nyokap gue baca buku itu sampai abis, huhuw..






Uh. Di entry gue kali ini, gue amat sangat menahan diri untuk tidak menggunakan kata2 makian a la Adella. Oya betewe Del. Apakah Vertrag von Nizza harus gue masukin di daftar ini ya? Bwahahahahaaha...

Creative Commons License