about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Saturday, December 24, 2005

Novel-novel Paling Mengecewakan yang Ada di Rak Buku Gue


Hmm.. udah lama gak nulis ulasan buku. Tadi gue udah nulis separuh jalan ttg Cala Ibi, tapi tiba2 males :D dan berhubung gue sangat memanjakan mood gue, maka gue banting setir bikin judul baru lagi.

Tolong perhatikan judul gue. Yang mau gue bahas di sini adalah novel-novel yang ada di rak buku gue, jadi ini bukan "worst books of the year" atau "worst books ever published". Jelas bukan, karena setiap gue beli buku tentu gue berharap banyak sama buku itu. Jadi gue juga gak bakal beli buku yg jelas2 tidak menarik minat gue at the first place.

Buku-buku ini kalo gak salah masih ada di kamar gue di Jakarta, jadi bagi siapapun yg berminat baca, gak usah beli, gue kasih aja nanti kalo gue udah balik. Kondisi masih bagus, bahkan baru gue baca beberapa halaman pertama, hehe..



Image hosted by Photobucket.com

Kerudung Merah Kirmizi, Remy Sylado
Ini agak aneh. Remy Sylado, beberapa kali menulis buku dengan berbagai nama samaran, sebenernya adalah salah satu sastrawan (termasuk novelis dan penyair) Indonesia favorit gue. Novel2nya berlatar belakang sejarah Indonesia, dan banyak di antaranya yang jadi bestseller. Salah satunya bahkan adalah buku favorit gue sepanjang masa, Ca Bau Kan (pernah di-filmkan beberapa tahun yang lalu).

Tapi mengapa? oh mengapa? Seseorang yang bisa menulis buku sebagus itu, juga bisa menulis buku sejelek itu? Huhuw... Apakah Anda sedang bad hair day Pak? *Neng Sarah mode on* atau Anda ini sebenernya berkepribadian ganda? Hhhhh....

Kerudung Merah Kirmizi, berlatar Indonesia menjelang kemerdekaan (atau malah sesaat setelah kemerdekaan ya? see, gue sampe gak inget lagi settingnya). Novel ini bicara ttg perjuangan kemerdekaan dan lain-lain yang semuanya itu menjadi samar gara2 kisah cinta yang mengerikan antara dua tokoh utamanya.

Jika gue mau berbaik sangka sedikit, mungkin Remy Sylado berlaku jujur di sana. Begitulah kisah cinta pada saat itu, ditambah lagi dua tokoh utama kita itu sama2 sudah berusia separuh baya, jadi ... yah... dangdut dan gombalnya luar biasa. Bayangin pasangan-pasangan jaman dulu, apalagi seusia itu, bicara pada satu sama lain. Nah. Kalian punya bayangannya. Se-horror itu memang.



Image hosted by Photobucket.com

Lelaki Terindah, Andrei Aksana
Ini adalah pengalaman pertama gue membaca karya Andrei Aksana, dan gue ... trauma. Andrei Aksana punya darah pujangga-pujangga legendaris dalam dirinya (Sanoesi Pane, Armijn Pane, Nina Pane) dan di antara sederet novelnya yang best sellers itu, novel ini adalah masterpiecenya. Coba katakan, bagaimana gue bisa menahan godaan untuk tidak membeli buku ini?

Gue cuma tahan baca beberapa halaman pertama.

Novel ini bercerita ttg kisah kasih antara dua orang pria. Kisah gay Indonesia di mana para pelaku sangat dissonants (gue gak menemukan kata yg cocok untuk: merasa sangat gamang karena ketidakcocokan antara 'apa yg mereka pikir baik' dengan 'apa yang mereka lakukan pada kenyataannya'). Sebenernya, kalau mau difokuskan ke sisi "konflik individu", mungkin bisa mendingan ya. Entahlah.

Satu lagi yang sangat mengganggu gue sejak awal, adalah normatifnya novel ini. Sejak prolog sudah ditekankan "penilaian negatif masyarakat terhadap kaum gay". Ini novel atau iklan layanan masyarakat? Bukan selera gue.

Sejahat-jahatnya gue, mari kita bahas sisi positif dari buku ini. Buku ini adalah salah satu dari sedikit, dan makin lama makin sedikit, buku-buku karya penulis muda Indonesia yang mencoba konsisten menggunakan Bahasa Indonesia. Tentu ada satu dua kata asing yg dicetak miring, tapi menurut gue itu sangat tidak terhindarkan, karena di beberapa bagian ceritanya berlatar belakang Bangkok, dan kalau gak salah ada yg di Amsterdam juga. Berapa banyak sih, penulis muda Indonesia saat ini yang menulis dalam Bahasa Indonesia untuk pembaca berbahasa Indonesia, diterbitkan di Indonesia, tanpa menyelip2kan kalimat2 sehari2 berbahasa Inggris?

Dan harus disebut juga di sini, usaha Andrei Aksana mempelopori gaya baru penulisan buku di mana dia juga bikin soundtrack novelnya, dibikin videoklip, dan dinyanyikan oleh dirinya sendiri. Jadi, satu paket dgn buku tersebut, dia juga sertakan CD berisi vidklip. (PS: Belum gue tonton CD itu, jd gue belum bisa komentar).

Oya, mas Andrei, makasih karena sudah masang gambar itu sebagai cover *wink*



Garis Tepi Lesbian, Herlinatien
(sori gue gak nemu cover buku ini, padahal covernya cukup bagus)
Juga tentang kaum homoseksual, novel ini bercerita ttg sepasang lesbian. Jika di buku Andrei Aksana, stigma2 negatif dari masyarakat sangat jelas, maka di sini sama sekali tidak dibahas, atau mungkin gue tidak cukup sabar untuk terus membaca sampai ketemu. Bahkan gue bingung, novel ini mau membahas apa. Dari A sampai Z isinya adalah puja puji seorang lesbian terhadap kekasihnya.

Gue baca buku ini bertahun2 yg lalu tapi gue masih inget komentar nyokap gue waktu itu, "ceritanya apa sih ini buku?" padahal nyokap gue baca buku itu sampai abis, huhuw..






Uh. Di entry gue kali ini, gue amat sangat menahan diri untuk tidak menggunakan kata2 makian a la Adella. Oya betewe Del. Apakah Vertrag von Nizza harus gue masukin di daftar ini ya? Bwahahahahaaha...

Creative Commons License

16 Comments:

  • At 3:34 PM, Blogger Ragil said…

    amel?! elo yakin mengkategorikan kerudung merah kirmizi dalam kelompok mengecewakan? OMG! Gue pribadi menghargai judgement loe yang tentu saja sangatlah subjektif terhadap karyanya Bang Remy Sylado (saaah.. kayak kenal aja!). Tapi kalo menurut gue dan beberapa temen2 diskusi buku yang udah sama2 baca buku itu sampe abis (penting nih mel!), buku ini tergolong salah satu a must-read book! itu artinya buku ini sangat layak dibaca walaupun tampilannya sangat tebal tapi bahasanya jauh dari konsep njlimet dan sangat membumi. Ceritanya juga tidak mengambil setting di jaman kemerdakaan seperti yang elo tulis, melainkan akhir tahun 90-an. Dan ceritanya tidak melulu mengenai kisah cinta yang 'mengerikan' dari tokoh utamanya melainkan banyak aspek dalam kehidupan kita sehari2 seperti perselingkuhan, intrik dan juga perjuangan hidup.
    Well, tapi penilaian dan tentu saja selera membaca orang kan beda2 yah. jadinya sah2 aja kalo elo sampai mengkategorikan buku ini "mengecewakan" walaupun elo baru buka beberapa halaman dan tidak sampai menyelesaikannya.

     
  • At 3:36 PM, Anonymous Anonymous said…

    selain vertrag von nizza, loe juga musti masukin Die Europaeische Union: Politisches system und Politikbereiche-nya werner weidenfeld! selain tebel beard (791 halaman!!!), sejak gue beli setaun yg lalu, belom pernah gue baca kecuali judul buku itu sendiri.. pertimbanagan gue beli buku itu adlh,
    1. covernya yg intelek bgt! ;) *biar keliatan interest ama politik eropa, pdhal politik indo pun ngga gue jamah*
    2. menuhin rak buku gue yg sepi buku2 kampus.. loe tau lah.. isi rak buku gue khan kl ngga full series calvin and hobbes, full series sophie kinsella, full series harry potter, ato majalah2 cewe yg gue baca astrologinya doang :D

    -adella-

     
  • At 9:38 PM, Anonymous farrah said…

    eh, gw juga ada tuh buku yang mengecewakan. Judulnya "Tuhan Singgah di Pelacuran" tulisannya Asmar Mahardika.
    Judulnya oke banget, menggugah rasa ingin tahu. Apalagi di toko buku ditaruh di rak bagian buku-buku Islami gitu. Terus tulisan di belakangnya (apa sih namanya? Kalo ngga salah sebutannya Blurb..)juga agak-agak bikin penasaran gitu. Taunya gaya tulisannya engga banget. Kaya kumpulan tulisan pendek yang gw yakin kalo dikirim ke poskota pun ngga bakalan dilulusin sama editornya...

     
  • At 3:57 AM, Anonymous bintangjatuh said…

    ada buku lain yg bisa disumbangkan ke saya? =)

     
  • At 1:12 PM, Blogger amel said…

    Ragil: Udah kita bahas panjang lebar di YM, gak usah gue reply lagi ya? hehe.. intinya, selera kita memang beda. Tapi berhubung elo begitu yakinnya kl buku ini sebegitu bagusnya, jadi... gue baca lagi deh ntar ;-)

    Adella: Seenggaknya covernya sama judulnya gak mengecewakan kan? :D

    Farrah: Huhuw... pasti buku2 nyeleneh gitu gak sih.

    Goz: Gue kira elo cuma baca buku2 komputer? hehe.. ntar lah, kalo gue ke Surabaya. Yang entah kapan itu, hehe..

     
  • At 3:02 PM, Anonymous IqN4s said…

    Gw paling seneng baca komik, banyak gambarnya gitu deh jd ga perlu repot membaca.
    Simple way of my life :D

     
  • At 3:37 PM, Blogger amel said…

    btw Bal. kayaknya elo dulu sempat punya account di multiply deh. coba ke sinikan, biar bisa gue liat2. daripada gue baca bahan kuliah gitu loh, tega loe?

     
  • At 3:59 PM, Anonymous IqN4s said…

    hehe .. isi nya ora genah mel. males gw nulis2 skrg, ga bakat kali yee

     
  • At 4:20 PM, Blogger amel said…

    Gue lagi pengen baca yg ora-ora nih ;;)

     
  • At 4:06 AM, Blogger CaTLio said…

    Ayo Mel, cala ibinya mana..gue pengen baca review loe..hehehehe

     
  • At 7:27 AM, Blogger amel said…

    Bim, berhubung gue gak tau kapan bisa selesai, nih gue ringkas di sini aja: gue suka buku itu, meski blm selesai baca, hehe, berat buanget. capek gue bacanya, gak bisa lama2, satu bab sekali baca juga udah bagus.

    btw, udah balik ke dunia blog nih? huhuw... gue kira elo sdh meninggalkan kita, hehe.

     
  • At 7:20 AM, Blogger rahmat said…

    wah untung gwe gak punya semua buku yang kamu sebut mel, jadi gak recomended tuk beli buku itu...(alaaaaah aleusan ajah sih sebenarnya, emang dasarnya aku gak suka beli buku hehehehe)

     
  • At 11:23 AM, Blogger zenrs said…

    kalo andrei aksana itu memang nggak ada bagusnya, deh. gak perlu basa-basi kayaknya :p

    Cala Ibu-nya kenapa gak direview? Keren, euy. Butuh cara membaca yg berbeda utk bisa masuk ke jalanan cerita. upppsss, keknya istilah "jalanan cerita" nggak gitu pas deh, soalnya di sana hanya ada "jalinan bahasa". ada kritikus yg menyebut "cala ibi" sebagai novel di mana bahasa menjadi peristiwa.

     
  • At 9:16 PM, Anonymous Keho said…

    Tak ada buku yang tak layak dibaca adikku! Bahkan buku dari seorang anak anjingpun pantas untuk saya baca..

     
  • At 9:09 AM, Anonymous Anonymous said…

    gw mw donk novel lelaki terindah lu.. drpd pajangan d rak elu mnding kasi k gue aja..hehehe..
    mail gw ya jungkimy@yahoo.com

     
  • At 4:27 AM, Blogger wahyu hidayat said…

    amel...boleh kirim buku2 loe ke bengkulu mel...
    aku berharap loe mau...
    thanks mel....

     

Post a Comment

<< Home