about a girl

A grandfather was walking through his yard when he heard his granddaughter repeating the alphabet in a tone of voice that sounded like a prayer. He asked her what she was doing. The little girl explained: "I'm praying, but I can't think of exactly the right words, so I'm just saying all the letters, and God will put them together for me, because He knows what I'm thinking." -Charles B. Vaughan

Tuesday, October 04, 2005

Tanda-tanda Gue Udah Kelamaan di Jakarta


Satu. Gue jadi latah minum pake sedotan.
Kalian perhatiin gak, org2 Jakarta itu tidak bisa minum tanpa sedotan. Tadinya gue pikir, karena minum es (apa coba hubungannya?) Ternyata, minum es cendol pun pake sedotan, jenis sedotan yang 2 atau 3 kali lebih lebar dari biasanya. Bahkan, suatu hari, gue pernah pesen teh panas pun dikasih sedotan (ini sumpah udah keterlaluan).

Kenapa orang di Jakarta minum pake sedotan? Penjelasan pertama, mungkin karena di sini semuanya serba berdebu. Botol yang berdebu, gelas yang berdebu, kalau menyangkut minuman kaleng, bisa jadi kita khawatir kaleng itu pernah dikencingin tikus selama penyimpanannya di gudang. Atau lalat yang hilir mudik di tepian gelas, jangan-jangan mereka membawa bibit penyakit. Lebih baik pake sedotan kali ya... Penjelasan kedua, penjelasan a la psikoanalisa (haiyah!), mungkin orang2 di Jakarta merasa begitu tidak amannya secara psikologis sehingga mencari pelarian ke hal-hal yang bisa mengingatkan mereka ketika masih berada dalam tahap menyusui (menyedot). Mengingatkan mereka akan pelukan seorang ibu, kehangatan, kenyamanan, ketenangan... Begitu jauh rasanya masa-masa itu dari masa-masa sekarang yang penuh kegetiran, kekecewaan, dan kepahitan... ckckck... puitis sekali gue ya...

Dua. Gue biasa nubruk siapapun tanpa minta maaf (asal orangnya jangan sampai jatuh aja kali ya...)
Di Jerman, jangankan di Fulda yg sepi, di Berlin yang penuh sesak pun, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuh orang lain. Jika gak sengaja tersentuh juga, kita diharapkan minta maaf. "Maaf karena saya menyentuh tangan Anda Herr Mueller, saya gak sengaja, semoga sentuhan saya tidak membuat Anda gatal2 nanti malam. Kita memang sedang berada di U-Bahn pada jam sibuk, tapi seharusnya saya lebih berhati2 menjaga tangan saya agar tetap di tempatnya, bukannya keluyuran dan grepe-grepe Anda."

Di Jakarta, saking padatnya manusia, dalam sehari gue bisa nyentuh ratusan orang. Dan mereka yang gue sentuh itu tidak memberi gue kesempatan minta maaf sama sekali, mereka bahkan tidak mengadakan kontak mata sama gue. Jadi, di Jakarta, gue biasa mendorong2 orang2 di trotoir. Gue pikir2, asik juga. Kapan2 kalo stress gue bakal slam dunk orang2 tak bersalah di jalanan.

Tiga. Gue ngobrol masalah pribadi sama temen gue di bis umum.
Kebiasaan orang2 Jakarta itu, curhat di kendaraan umum. Apalagi kalo udah ketemu ABG2 (kok gue kesannya jadi pembenci anak2 ABG gini ya?) seperti inilah yang akan kalian dengar:

Si Abang kemarin nunjukin foto cewek itu di dompetnya. Cantik banget deh. Dia masih suka banget sama Abang katanya. Masih sms, masih nelpon.
Terus si Abang gimana?
Tauk deh. Tapi kemarin dia nelpon gue gitu. Bingung banget dia. Katanya cewek itu pengertian banget, bisa ngertiin dia banget, satu2nya cewek yang bisa ngertiin dia gitu.
Terus pacar cewek itu gimana?


Gue, di sebelah mereka, antara hampir ngakak2 liat gaya mereka yg gak penting banget, sekaligus juga marah banget sama mereka karena membuat gue harus dengerin celoteh gak penting semacam itu.

Sekali lagi, ini adalah berkat terlalu padatnya manusia di sini, jadi zona pribadi sudah saling tumpang tindih dengan zona publik. Sudah gak bisa lagi bedain mana yang milik pribadi dan mana yang untuk konsumsi publik.

Dan sekarang, tiba2 gue inget, pada suatu hari Sabtu yang sudah lalu, gue naik bis bareng sama temen gue dan melakukan sesi konsultasi di sana, huhuhu... tapi kan, di metromini ribut banget, gak mungkin ada yg dengerin lah, tapi kan, itu kondisi darurat, tapi kan tapi kan...

Empat. Gue makan gorengan secara (hampir) teratur.
Orang2 kantor gue langganan makan gorengan. Ada satu penjual gorengan yang enaaaakkk baaangggeettt. Kalo gak salah di depan POLDA jualannya, dan hanya ada pagi, siang dikit udah keabisan. Gorengan itu ngangenin sekali. Renyah. Gurih. Kering. Benar2 tidak sama dengan gorengan2 di tempat2 lain... Biasanya kita ngumpulin uang buat patungan beli gitu deh. Karena lumayan jauh dari kantor gue, harus minta tolong beliin sama office boy naik motor.

Makanan khas Jakarta. Gorengan. Bisa berupa tahu, tempe, ubi, bakwan, pisang, dll. Digoreng dengan minyak yang gak tau udah berapa lama dipake sampe warnanya sangat keruh. Gak tau itu minyak beli di mana dan bekas pakai oleh gerai fast food mana. Gak tau berapa kandungan lemak jenuhnya. Gak tau berapa besar resiko kanker gue gara2 memakannya.

Creative Commons License

1 Comments:

  • At 12:15 AM, Anonymous Jakarta usaha dan Bisnis said…

    Benner Benget ... makan gorengan hampir teratur.... jakarta emang banyak gorengan.. di ganti aja .. jadi minum jus buah hampir teratur...
    walau enakan gorengan siee..
    Peace Amel
    Sukses terus yaaa

     

Post a Comment

<< Home